PEMBINAAN IMAN ANAK BERBASIS MODERASI BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

Oleh Anselma Doo

Abstrak

Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dengan keragaman agama, budaya, suku, dan bahasa. Dalam konteks masyarakat plural tersebut, pembinaan iman anak tidak hanya bertujuan membentuk pribadi yang beriman dan berakhlak, tetapi juga pribadi yang mampu hidup berdampingan secara damai dengan sesama yang berbeda keyakinan. Artikel ini mengkaji konsep pembinaan iman anak berbasis moderasi beragama dalam perspektif Pendidikan Agama Katolik. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan menganalisis dokumen Gereja Katolik, ajaran Magisterium, serta berbagai penelitian mengenai moderasi beragama dan pendidikan agama. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai moderasi beragama seperti toleransi, dialog, penghargaan terhadap martabat manusia, persaudaraan, dan cinta kasih telah menjadi bagian integral dalam ajaran Gereja Katolik. Pendidikan Agama Katolik memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut melalui keluarga, sekolah, dan komunitas Gerejani sehingga anak-anak mampu mengembangkan identitas iman yang kokoh sekaligus terbuka terhadap keberagaman.

Kata Kunci: Pembinaan Iman Anak, Moderasi Beragama, Pendidikan Agama Katolik, Toleransi, Pendidikan Karakter.

 

Pendahuluan

Indonesia selalu dikenal sebagai negara yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi. Kehidupan masyarakat yang plural menuntut setiap warga negara memiliki kemampuan untuk hidup berdampingan secara harmonis. Dalam situasi demikian, pendidikan memiliki tanggung jawab untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kematangan spiritual dan sosial.

Pada masa belakangan  ini, muncul berbagai tantangan yang mengancam kehidupan harmonis masyarakat, seperti intoleransi, eksklusivisme keagamaan, dan penyebaran ujaran kebencian melalui media digital. Karena itu, moderasi beragama menjadi salah satu pendekatan penting dalam pendidikan untuk menanamkan sikap toleran, menghargai perbedaan, dan menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama.

Dalam perspektif Gereja Katolik, pembinaan iman tidak sekadar mengajarkan doktrin dan praktik keagamaan, melainkan membentuk pribadi yang semakin serupa dengan Kristus, yang menghidupi kasih, perdamaian, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Oleh karena itu, pembinaan iman anak berbasis moderasi beragama menjadi relevan untuk dikembangkan dalam Pendidikan Agama Katolik.

Metode Penelitian

Penulisan  ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari dokumen Gereja Katolik, artikel jurnal ilmiah, buku, dan hasil penelitian yang berkaitan dengan pembinaan iman anak, moderasi beragama, dan Pendidikan Agama Katolik. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi tema, interpretasi, dan sintesis konseptual.

Pembahasan

Pembinaan Iman Anak dalam Perspektif Pendidikan Agama Katolik

Dalam ajaran Gereja Katolik, anak merupakan anugerah Allah yang harus dibimbing agar bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih. Pendidikan iman pertama-tama berlangsung dalam keluarga yang disebut sebagai “Gereja rumah tangga” (Ecclesia Domestica). Dasar biblis pembinaan iman anak dapat ditemukan dalam beberapa kutipan Kitab Suci yakni: Ulangan 6:4–9 tentang kewajiban orang tua mengajarkan iman kepada anak, Matius 19:14, ketika Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku.” , dan  Matius 28:19–20 mengenai tugas Gereja untuk mengajar dan membaptis semua bangsa.

Dokumen Konsili Vatikan II, khususnya Gravissimum Educationis, menegaskan bahwa pendidikan Kristiani bertujuan membantu manusia berkembang secara utuh sesuai martabatnya sebagai citra Allah. Pembinaan iman anak dalam Pendidikan Agama Katolik mencakup: Pengembangan relasi pribadi dengan Allah, Pembentukan karakter Kristiani,  Penghayatan nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari, dan Keterlibatan dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.

Konsep Moderasi Beragama

Pada  tahun 2019,  pemerintah  melalui  Kementerian  Agama  mencanangkan  “Tahun Moderasi Beragama”. Pada tahun  yang  sama,  sebuah  buku  bertajuk  Moderasi  Beragama  diterbitkan  oleh Badan  Badan  Litbang  dan  Diklat Kementerian  Agama  RI.  Dalam  buku tersebut  dijelaskan  bahwa  moderasi beragama  adalah  cara  pandang,  sikap, dan  perilaku  selalu  mengambil posisi  di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak  ekstrem  dalam  beragama  (Badan Litbang  dan  Diklat  Kementerian  Agama RI, 2019, pp. 17–18).

Moderasi beragama merupakan cara pandang dan praktik beragama yang mengedepankan keseimbangan, penghormatan terhadap perbedaan, serta penolakan terhadap sikap ekstrem. Dalam konteks pendidikan, moderasi beragama bertujuan membentuk peserta didik yang mampu hidup rukun di tengah keberagaman.  Ada Empat indikator moderasi beragama yang banyak digunakan dalam konteks Indonesia meliputi: Komitmen kebangsaan, Toleransi, Anti-kekerasan dan Akomodatif terhadap budaya lokal. Moderasi beragama bukanlah upaya mengurangi keyakinan seseorang terhadap agamanya, melainkan menjalankan ajaran agama secara seimbang dan menghormati hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya.

Moderasi Beragama dalam Perspektif Gereja Katolik

Nostra  Aetate merupakan  salah  satu  dokumen  Gereja  Katolik yang  lahir  dari  hasil  Konsili Vatikan  II.  Dokumen Nostra  Aetate  disebut  juga  sebagai Deklarasi Nostra  Aetate ,yaitu pernyataan  tentang  hubungan  Gereja dengan agama-agama non Kristiani. Penghormatan Terhadap Agama-Agama Lain melalui  Dokumen  Nostra  Aetate Art.  2,  Gereja  Katolik  secara  resmi  menyatakan sikapnya terhadap agama-agama lain:

“Gereja  Katolik  tidak  menolak  apa  pun,  yang  dalam  agama-agama itu  serba  benar  dan  suci.  Dengan  sikap  hormat  yang  tulus,  Gereja  merenungkan  cara-cara  bertindak  dan  hidup,  kaidah-kaidah  serta  ajaran-ajaran, yang  memang  dalam  banyak  hal  berbeda  dari  apa  yang  diyakini  dan  diajarkannya  sendiri,  tetapi  tidak  jarang  toh  memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang”.

Pernyataan  Gereja  di  atas  menunjukkan  sikap  hormat  dan  keterbukaan  Gereja terhadap agama-agama lain. Gereja  Katolik  merasa  terpanggil  untuk  memajukan  persatuan  dan  kasih  di  antara  umat  manusia. Gereja Katolik sejak Konsili Vatikan II memberikan perhatian besar terhadap dialog dan hubungan antaragama (Riyanto, 1995:53).

Prinsip-prinsip moderasi beragama dalam ajaran Katolik antara lain: 1) Martabat Manusia, bahwa Setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei). Karena itu setiap orang wajib dihormati tanpa memandang agama, suku, atau budaya. 2)  Kasih Universal, bahwa Yesus mengajarkan kasih kepada sesama bahkan kepada mereka yang berbeda atau dianggap musuh (Mat. 5:44). 3) Dialog, bahwa Dialog dipandang sebagai sarana membangun saling pengertian dan kerja sama demi kebaikan bersama. 3). Persaudaraan, bahwa Semua manusia merupakan satu keluarga besar yang dipanggil untuk hidup dalam damai dan solidaritas.

Model Pembinaan Iman Anak Berbasis Moderasi Beragama

Berdasarkan kajian literatur dan ajaran Gereja, maka model pembinaan iman anak berbasis moderasi beragama dapat dilakukan melalui tiga lingkungan utama yautu: 1) Keluarga, menjadi tempat pertama anak belajar menghargai perbedaan. Maka  Orang tua perlu: Menjadi teladan dalam sikap toleransi, Menghindari ujaran kebencian terhadap kelompok lain, Mengajarkan kasih Kristiani dalam kehidupan sehari-hari, dan Mengenalkan keberagaman sebagai anugerah Allah.  2) Sekolah: Pendidikan Agama Katolik perlu mengintegrasikan nilai moderasi beragama dalam pembelajaran melalui: Pembelajaran kontekstual,  Diskusi lintas budaya dan agama, Projek penguatan profil pelajar Pancasila, dan Kegiatan kolaboratif antar peserta didik yang berbeda agama. 3) Komunitas Gerejani Paroki dan komunitas basis dapat menyelenggarakan: Katekese anak berbasis dialog, Kegiatan sosial lintas agama, Perayaan hari besar nasional bersama, Program pelayanan kemanusiaan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat.

Implikasi bagi Pendidikan Agama Katolik

Pengembangan pembinaan iman anak berbasis moderasi beragama memiliki beberapa implikasi yaitu: 1) Kurikulum Pendidikan Agama Katolik perlu mengintegrasikan nilai toleransi dan dialog.  2) Guru agama harus menjadi teladan moderasi beragama. 3) Pembelajaran harus menekankan pengalaman hidup bersama dalam keberagaman. 4) Gereja perlu memperkuat kerja sama dengan keluarga dan sekolah dalam pembinaan anak.  Melalui pendekatan tersebut, anak tidak hanya memiliki identitas iman Katolik yang kuat, tetapi juga mampu menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat multikultural.

Kesimpulan

Pembinaan iman anak berbasis moderasi beragama merupakan kebutuhan mendesak dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural. Pendidikan Agama Katolik memiliki landasan teologis dan pedagogis yang kuat untuk mengembangkan model pembinaan iman yang mengintegrasikan nilai kasih, toleransi, dialog, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Dengan melibatkan keluarga, sekolah, dan komunitas Gereja, pembinaan iman anak dapat menghasilkan generasi Katolik yang berakar kuat dalam iman sekaligus terbuka terhadap keberagaman demi terwujudnya persaudaraan dan perdamaian.

 

Daftar Pustaka

Ahmad, F. (2023). Aktualisasi Moderasi Beragama di Ranah Pendidikan Indonesia. Didaktika: Jurnal Pemikiran Pendidikan.

Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. (2019). Moderasi Beragama. Kementerian Agama RI

Cakranegara, J. J. S. (2024). Identifikasi Tema Moderasi Beragama dalam Pendidikan Agama Katolik pada Kurikulum Merdeka. Jurnal Edutrained, 8(1), 1–10.

Konsili Vatikan II. (1965). Gravisimum Educationis (pernyataan tentang pendidikan Kristen). Dalam Hardiwiryana, R. (Penerj.). (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Yayasan Obor

Konsili Vatikan II. (1965). Nostra Aetate  (pernyataan tentang pendidikan Kristen). Dalam Hardiwiryana, R. (Penerj.). (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Yayasan Obor

Lembaga Alkitab Indonesia. (2023). Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: LBI

Mada, M. A., & Wilhelmus, O. R. (2022). Internalisasi Nilai Kebaikan Agama Lain Melalui Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Menurut Nostra Aetate. JPAK: Jurnal Pendidikan Agama Katolik, 23(1), 72–84.

Politon, V. A., Wuwung, O. C., & Kalangi, S. Y. (2025). Formasi Iman dan Moderasi Beragama: Teologis-Pedagogis Membangun Sikap Toleran dalam Kekristenan di Era Pluralistik. Manna Rafflesia.

Riyanto, Armada F.X.E., 1995, Dialog Agama: dalam Pandangan Gereja Katolik. Yogyakarta: Kanisius

Sutrisno, E. (2019). Aktualisasi Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan. Jurnal Bimas Islam, 12(2), 323–348.

Add Your Heading Text Here