Aktualisasi peran sekolah Di SMA Negeri I Kabupaten Deiyai

Yulius Pekei

stktouye@gamil.com/yuliuspekei0312@gmail.com

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk menganalisis Aktualisasi perankepala sekolah SMA Negeri 1 Deiyai dalam membangkitkan dan merangsan Tendik, melengkapi alat perlengkapan sekolah, mengembangkan metode mengajar, melaksanakan kerja sama harmonis guru-guru, mengembangkan mutu pengetahun guru-guru, membina hubungan kerja sama antara Tendik, siswa dan orang tua di SMA Negeri 1 Deiyai Provinsi Papua Tenggah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif metode deskriptif tentang Aktualisasi peran Kepala sekolah di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Deiyai. Sumber hasil wawancara kepada kepala sekolah, guru, TU bagian Administrasi dan peserta didik dari SMA Negeri 1 Deiyai. Berdasarkan hasil penelitian ini menunjukan bahwa kepala SMA N 1 Kabupaten Deiyai Provinsi Papua Tenggah telah mengimplementasikan tugas kepala sekolah sebagai berikut: 1) Membangkitkan dan merangsan Tendik dalam tugasnya masing-masing baik dari kesiapan mengajar hingga tanggung jawab pengelolaan nilai. Mengarahkan serta mengawasi mulai dari perencanaan, proses hingga evaluasi dengan berpedoman kepada aturan yang berlaku. 2) Melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah demi kelancaran proses belajar-mengajar di kelas kepalah sekolah dapat diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan yang menjadi perioritas dan melibatkan guru mata pelajaran untuk membicarakan program pembiayaanya. 3) Mengembangkan metode mengajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum baru berpengaru dari kurangnya sosialisai dari dinas terkait, kurannya buku sumber dan kurangnya disiplin dari guru maka kepalah sekolah. 4) Melaksanakan kerja sama harmonis guru-guru mengadakan makan bersama tiga bulan sekali. siswa melakukan lomba masak memasak lomba tarian tradisional berkunjung keluarga yang duka, atau sakit. 5) Mengembangkan mutu pengetahun guru-guru melaksanakan bimtek yang di adakan di Provinsi. Selanjutnya tes PPPK dan Tes Nasioan dilaksanakan di SMA Negeri guru di libatkan menjadi pengawas. selalu memberi contoh atau menjadi teladan, dan memberi reward bagi guru dan siswa yang berprestasi. Kepala sekolah memberikan kesempatan dan dukungan bagi guru dan staf dalam mengikuti pelatihan yang dapat meningkatkan jenjang karier, dan mendukung apapun kegiatan positif yang diinginkan guru dan staf. 6) Membina hubungan kerja sama antara Tendik, siswa dan orang tua kepalah sekolah mengadakan rapat bersama orang tua melalui komite sekolah untuk evaluasi keharmonisan, Guru, sisiwa dan orang tua.

Kata Kunci: Aktualisasi perankepala sekolah, harmonis.

ABSTRACT

The purpose of this study was to analyze the implementation of the duties of the principal of SMA Negeri 1 Deiyai in arousing and stimulating Tendik, completing school equipment, developing teaching methods, carrying out harmonious cooperation between teachers, developing the quality of knowledge of teachers, fostering cooperative relationships between Tendik , students and parents at SMA Negeri 1 Deiyai, Central Papua Province. This study uses a qualitative approach with descriptive methods regarding the implementation of the

 

duties of school principals at Deiyai 1 Public Senior High School. Sources of interviews with school principals, teachers, TU Administration section and students from SMA Negeri 1 Deiyai. Based on the results of this study, it shows that the principal of SMA N 1 Deiyai Regency, Central Papua Province has implemented the duties of the principal as follows: 1) Generating and stimulating Tendik in their respective duties, from teaching readiness to value management responsibilities. Directing and supervising from planning, process to evaluation based on applicable regulations. 2) Completing school equipment for the smooth running of the teaching-learning process in the school principal’s class can be started by identifying needs that are a priority and involving subject teachers to discuss the funding program. 3) Developing teaching methods that are in accordance with the demands of the new curriculum are influenced by the lack of socialization from related agencies, the lack of resource books and the lack of discipline from teachers, so school heads always hold regular meetings to make teacher discipline more effective. 4) Carry out harmonious cooperation of teachers holding a joint meal every three months. students do cooking competitions traditional dance competitions visiting families who are grieving, or sick. 5) Developing the quality of knowledge of teachers implementing technical guidance held in the Province. Furthermore, PPPK tests and National tests were carried out at state high schools, teachers were involved as supervisors. always set an example or be a role model, and reward teachers and students who excel. Principals provide opportunities and support for teachers and staff in participating in training that can increase career paths, and support whatever positive activities teachers and staff want. 6) Fostering a cooperative relationship between Tendik, students and parents. The head of the school holds a meeting with parents through the school committee to evaluate harmony, teachers, students and parents.

 

Keywords: Implementation of the principal’s duties, harmonious.

 

 

PENDAHULUAN

Proses pendidikan merupakan model pendidikan yang dilakukan secara sadar dan terencana agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan konteks zaman yang dihadapinya. Sebagai langkah strategis, dunia pendidikan harus melakukan rekonstruksi pemikiran menuju pemikiran yang lebih transformatif dan berwawasan global, yakni sebuah pemikiran yang mampu membaca kondisi riil masyarakat global di antaranya peluang dan tantangannya dalam keberlangsungan hidup manusia serta mampu mengambil sikap yang berwawasan masa depan dengan tetap mengawali nilai- nilai humanis dalam pendidikan (Unwanullah Arif, 46-47).

Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta penjelasannya Bab II Pasal 3 bahwa: Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, mandiri dan menjadi warga negara yang demokrasi serta bertanggung jawab.

Selanjutnya, prinsip penyelenggaraan pendidikan secara jelas juga telah diuraikan dalam Undang-Undang Sisdiknas tersebut, yaitu tercantum pada pasal 4, bahwa: 1) Pendidikan diselenggarakan secara demokratis dan berkeadilan serta tidak diskriminatif dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia, nilai keagamaan, Kepala sekolah adalah pemimpin pendidikan yang mempunyai peranan sangat besar dalam mengembangkan pendidikan di sekolah. Berkembangnya budaya sekolah, kerja sama yang harmonis, minat terhadap perkembangan pendidikan, suasana pembelajaran yang menyenangkan dan perkembangan mutu profesional diantara para guru banyak ditentukan oleh kualitas Manajemen kepala sekolah.

Selanjutnya, prinsip penyelenggaraan pendidikan secara jelas juga telah diuraikan dalam penelitian terdahulu namun ada bedanya pada analisis kajian teori, objek penelitian dan sumber data yakni Taufiq Faja Syahrudi (2014): “Implementasi Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kedisiplinan Guru di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Pura Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pentingnya kedisiplinan guru terlihat pada: Pelaksanaan Kepemimpinan Kepala Madrasah di MAN 2 Tanjung Pura. 1) system manajemen pendidikan. 2) tugas seorang pimpinan tertinggi dalam instansi pendidikan, 3), seluruh system pendidikan dapat berjalan sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan.

Muhammad Nazhif Asy’ari (2015) : ‘Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Disiplin Guru di Madrasah Al- Washliyah Medan Krio Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang’. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Disiplin Guru terlihat pada: 1) Kepemimpinan kepala Madrasah dalam hal pengambilan keputusan di MTS Al Washliyah Medan krio. 2) kepala Madrasah sebagai pemimpin yang paling tertinggi di Madrasah tersebut dalam pengambilan keputusan selalu melibatkan seluruh komponen – komponen yang ada, seperti guru, komite, staf Madrasah agar kebijakan yang dibuat dapat dijalankan bersama sehingga seluruh system pendidikan dapat berjalan sesuai dengan harapan dan tujuan pendidikan.

Jamilah H. Ali.SD (2020), Aktualisasi peran Sekolah Sebagai Siupervisor Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Guru Mata Pelajaran IPA Pada SDN Roja 1 Ende. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Aktualisasi peran Sekolah terlihat pada: 1) Aktualisasi peran sekolah sebagai supervisor pada SDN Roja 1 Ende, 2) Mengetahui proses supervisi dalam peningkatan mutu pembelajaran guru mata pelajaran IPA pada SDN Roja 1 Ende, dan 3) Mengetahui pandangan guru mata pelajaran IPA terhadap proses supervisi pada SDN Roja

1 Ende. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu pendekatan yang mencoba memahami pemaknaan individu dari subjek yang diteliti. Subyek penelitian ini terdiri dari key iforman yaitu kepala sekolah sebagai supervisor dan informan yaitu guru mata pelajaran IPA. Dalam mendapatkan data, penulis menggunakan teknik wawancara, dan pengamatan (observasi).

Lilis Wati, 2019‘ Aktualisasi peran Sekolah Dalam Pelaksanaan Supervisi Administrasi Guru Di SMA N 1 Meureubo Aceh Barat. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Aktualisasi peran sekolah dianggap masih belum efektif karena supervisi diwakilkan pada guru senior, kurang tegas dalam melakukan supervise dan tidak membuat aturan yang baku pedoman khusus tentang supervisi. 2) Pelaksanaan supervisi dilakukan sebanyak 2 kali dalam satu tahun, jenis supervisi yang digunakan ialah supervisi akademik dan supervisi klinis dan tehnik yang digunakan adalah tehnik rapat dengan guru, diskusi, tehnik observasi kelas dan percakapan pribadi dengan guru yang bersangkutan yang dipanggil keruang kepala sekolah. 3) Kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi antara lain alokasi waktu, supervisi sebagai prioritas utama,dan adanya prioritas lain yang difokuskan oleh kepala sekolah yaitu masalah kebersihan lingkungan.

Namun, ada perbedaanya dengan penelitian ini peneliti lebih pada menganalisis pada Aktualisasi perankepala sekolah dalam Membangkitkan dan Merangsan tendik, Melengkapi alat perlengkapan sekolah, mengembangkan metode mengajar, Melaksanakan kerja sama harmonis guru-guru, Mengembangkan mutu pengetahun guru-guru, Membina hubungan kerja sama antara Tendik, siswa dan orang tua. Kesamaan dalam penelitian ini adalahah metode pengumpulan yaitu kepala sekolah sebagai supervisor dan informan yaitu guru mata pelajaran IPA. Dalam mendapatkan data, penulis menggunakan teknik wawancara, dan pengamatan (observasi).

Lilis Wati, 2019‘ Aktualisasi peran Sekolah Dalam Pelaksanaan Supervisi Administrasi Guru Di SMA N 1 Meureubo Aceh Barat. Hasil penelitian menunjukkan: 1) Aktualisasi peran sekolah dianggap masih belum efektif karena supervisi diwakilkan pada guru senior, kurang tegas dalam melakukan supervise dan tidak membuat aturan yang baku pedoman khusus tentang supervisi. 2) Pelaksanaan supervisi dilakukan sebanyak 2 kali dalam satu tahun, jenis supervisi yang digunakan ialah supervisi akademik dan supervisi klinis dan tehnik yang digunakan adalah tehnik rapat dengan guru, diskusi, tehnik observasi kelas dan percakapan pribadi dengan guru yang bersangkutan yang dipanggil keruang kepala sekolah. 3) Kendala-kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan supervisi antara lain alokasi waktu, supervisi sebagai prioritas utama,dan adanya prioritas lain yang difokuskan oleh kepala sekolah yaitu masalah kebersihan lingkungan.

Namun, ada perbedaanya dengan penelitian ini peneliti lebih pada menganalisis pada Aktualisasi perankepala sekolah dalam Membangkitkan dan Merangsan tendik, Melengkapi alat perlengkapan sekolah, mengembangkan metode mengajar, Melaksanakan kerja sama harmonis guru-guru, Mengembangkan mutu pengetahun guru-guru, Membina hubungan kerja sama antara Tendik, siswa dan orang tua. Kesamaan dalam penelitian ini adalahah metode pengumpulan diperoleh dari sumber data yang satu dapat teruji kebenarannya bila dibandingkan dengan data lain.

Triangulasi ini dimaksud untuk membandingkan dan mengecek kembali tingkat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dengan menggunakan metode kualitatif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, Wakasek, Salpras dan kesiswaan di atas dapat menarik kesimpulan bahwa Kepalah sekolah SMA N 1 Deiyai Membangkitkan dan Merangsan tendik dalam tugasnya masing-masing baik dari kesiapan mengajar hingga tanggung jawab pengelolaan nilai. mengarahkan serta mengawasi mulai dari perencanaan, proses hingga evaluasi dengan berpedoman kepada aturan yang berlaku. mengambil langkah dengan mendisiplinkan diri terlebih dahulu dengan memberi contoh datang ke sekolah tepat waktu walaupun dalm masa pandemi covid 19 dan memberikan contoh yang baik seperti disiplin diri.

Kedua kepalah sekolah SMA N I Melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah demi kelancaran proses belajar-mengajar di kelas dan kepalah sekolah dapat diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan yang menjadi perioritas dan melibatkan guru mata pelajaran untuk membicarakan program pembiayaanya.

Ketiga: Kepala sekolah dan guru-guru untuk mengembangkan metode mengajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum baru tetapi berpengaru dari kurangnya sosialisai dari dinas terkait, kurannya buku sumber dan kurangnya disiplin dari guru maka kepalah sekolah selalu melakukan rapat ruting untuk mengefektifkan kedisiplinan guru.

Keempat: Kepala sekolah mengadakan makan bersama tiga bulan sekali. siswa melakukan lomba masak memasak lomba tarian tradisional berkunjung keluarga yang duka, atau sakit.Membuat aturan di mana jika masih ada guru yang kurang disiplin, memberikan sanksi berupa teguran secara persuasip dan kekeluargaan, jika masih didapati guru yang kurang disiplin maka diberikan pembinaan-pembinaan.

Kelima: Sekolah kerja sama dengan sekolah lain kepalah sekolah mengutus guru untuk bimtek di kegiatan yang adakan di kabupaten, Maupun bimtek yang di adakan di Provinsi. Selanjutnya tes PPPK dan Tes nasioan dilaksanakan di SMA negeri 1, guru di libatkan menjadi pengawas. selalu memberi contoh atau menjadi teladan, dan memberi reward bagi guru dan siswa yang berprestasi. Kepala sekolah memberikan kesempatan dan dukungan bagi guru dan staf dalam mengikuti pelatihan yang dapat meningkatkan jenjang karier, dan mendukung apapun kegiatan positif yang diinginkan guru dan staf.

Keenam: Mengadakan rapat ruting dengan guru, selanjutnya kepalah sekolah dalam tiga bulan sekali mengadakan rapat bersama orang tua melalui Komite sekolah untuk evaluasi keharmonisan. Guru yang masih belum harmonis dengan siswa di bina dan arahkan agar tidak jadi masalah yang serius dalam hubungan harmonis antara guru, siswa dan orang tua dengan di undang orang tua dalam rapat dan memberikan kesempatan kepada guru wali untuk di dampingi kepada siswa. Setiap pagi selalu melaksanakan apel pagi.

Pembahasan

Setelah melakukan pengumpulan data dari lapangan penelitian, maka dapat dikemukakan beberapa temuan penelitian. Berdasarkan hasil wawancara dengan bapak Matius Sapan, S.Pd. selaku kepala Sekolah bahwa sangat besar yang mempengaruhi keberhasilan lembaga yang dipimpinnya dengan kepemimpinannya beliau diharapkan mampu mengerakan, mengarahkan, memprediksi serta menyikapi proses dan hasil yang nantinya mampu mempengaruhi lembaganya dalam pembentukkan kualitas dan mutu pendidikan yang sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

Hal yang serupa juga dikatakan oleh Bapak Petrus Tandirerung,S.Pd. selaku Pengampu Mata Pelajarn Matematika menyatakan Kepala sekolah adalah ketua di dalam lembaga pendidikan. Dan dalam diri kepala sekolah harus mempunyai jiwa pemimpin. Pemimpin adalah orang yang dapat memberikan pengaruh, mendorong, mengatur, menggerakkan dan menuntun semua staf semua jajaran dibawah naungannya untuk tetap pada satu tujuan bersama yaitu untuk memajukan sekolah menjadi lebih baik lagi.

Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber Ibu Yusra, S.Pd. selaku Wakil kepala sekolah dan sekaligus guru PPKN Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat di ketahui bahwa walaupun supervisi tidak secara langsung diterapkan oleh kepala sekolah itu sendiri namun dibantu oleh wakil kepala sekolah, tetapi kepala sekolah juga sangat berperan penting dalam proses kegiatan supervisi yang terlaksana dalam hal menindaklanjuti dari kegitan supervisi tersebut serta menangani masalah-masalah yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut.

Muhammad Nazhif Asy’ari (2015), Aspek-aspek yang menjadi point disiplin guru di Madrasah TSanawiyah Al Washliyah Medan Krio adalah kehadiran, perangkat pembelajaran, Reward and Punishment dan sanksi. Disiplin kerja merupakan salah satu acuan dalam mensukseskan setiap organisasi. Kehadiran merupakan suatu kewajiban dan keharusan yang harus dijalankan oleh guru agar dapat memberikan ilmu kepada peserta didik didalam kelas, serta perangkat pembelajaran yang harus disiapkan oleh guru seperti RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang akan membantu guru untuk melaksanakan proses pembelajarannya. Kepala sekolah adalah orang yang memiliki kompetensi (Sudarwan Danim 2007:56). Pemimpin yang membantu para guru mengembangkan kemampuan mereka secara maksimal dan menciptakn suasana yang hidup sekolah (Ngalim Purwanto, 2008:73).

Lebih lanjut Saydam dalam bukunya M.Kadarisman menjelaskan sebagai berikut: Pengawasan merupakan kegiatan Aktualisasi perandan tanggungjab yang harus di lakukan dengan maksud agar tidak terjadi penyimpangan dalam melaksanakan pekerjaan. Suatu penyimpangan atau kesalahan terjadi atau tidak selama dalam pelaksanaan pekerjaan tergantung pada tingkat kemampuan dan keterampilan para guru dan tenaga kependidikan. Para guru yang selalu mendapat pengarahan atau bimbingan dari atasan, cenderung melakukan kesalahan atau penyimpangan yang lebih sedikit dibandingkan dengan guru yang tidak memperoleh bimbingan.

Aktualisasi perandan tanggunjawab kepala sekolah kepada guru dan pegawai yang dilaksanakan oleh Bapak Matius Sapan, S.Pd. dan Juga Wakil Kurikulum dan Wakil Kesiswaan dalam mengembangkan SMA Negeri 1 Kabupaten Deiyai Pengembangan proses kedisiplinan kerja pegawai terutama pendidik sangat di perhatikan dan di tingkatkan dalam membentuk kepribadian dan mental yang baik agar terwujudnya mutu dan kualitas pendidikan dengan menghasilkan peserta didik yang bermutu. Dengan mempertegas peraturan-peraturan yang diterapkan dan telah di sosialisasikan kepada semua elemen yang ada dalam SMa Negeri 1 Kabupaten Deiya baik itu untuk guru maupun untuk siswa, jadi tidak ada alasan siswa yang bisa menyalahkan gurunya untuk kesalahannya mengenai Tugas dan tanggun jawab kepala sekolah yaitu kehadiran. Dengan adanya peraturan yang dibuat baik itu dari guru maupun untuk siswa mampu membuat tingkat kedisiplinan guru itu sendiri semakin hari semakin meningkat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan narasumber Ibu Ilorma Adii, S.Pd. selaku Salpras dan Guru Mata Pelajaran Biologi mengatakan bahwa Aktualisasi perankepala sekolah melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah demi kelancaran proses belajar-mengajar di kelas di SMA Negeri 1 Deiyai kepala sekolah membuat jadwal/waktu pelaksanaan supervisi pada sarana pendidikan, Membuat daftar alat-alat yang diperlukan di sekolahnya sesuai dengan kebutuhannya dengan daftar alat yang distandarisasi dan menyusun daftar kebutuhan sekolah masing-masing.

Mengikutsertakan semua guru dalam perencanaan seleksi, distribusi dan penggunaan serta pengawasan peralatan dan perlengkapan pada fasilitas yang ada di sekolah. Selalu survei terhadap fasilitas yang ada di sekolah baik sarana maupun prasarana secara terus menerus. Selalu pemeriksaan dan koreksi terhadap kondisi-kondisi sarana maupun prasarana secara terus menerus, selalu di ajak kami untuk selalu menjaga seluruh kondisi fasilitas yang ada di sekolah perluh di tingkatkan. proses pendidikan dan pembelajaran dalam suatu lembaga akan menciptakan suasana yang kondusif dan mampu menciptakan kinerja yang tinggi dengan sangat mempengaruhi tingkat afektif anak baik dari perkembangan fisiknya maupun piskis anak didik tersebut dengan ketersediaan alat dan media pembelajaran.

Aktualisasi perandan tanggunjawab kepala sekolah dalam melaksanakan supervisi untuk melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah demi kelancaran proses belajar-mengajar sehingga kepala sekolah selaku peimpinan sekolah membantu para guru menyumbangkan kesanggupan mereka secara maksimal dan menciptakan Suasana hidup sekolah yang sehat, yang mendorong guru-guru, pegawai- pegawai tata usaha, murid-murid dan orang tua murid untuk mempersatukan kehendak, pikiran dan tindakan dalam kegiatan-kegiatan kerjasama yang efektif bagi tercapainya tujuan-tujuan sekolah.

Aktualisasi perandan tanggungjab Kepala Sekolah adalah salah satu aturan, kunci dan acuan para pegawai demi melancarkan dan mewujudkan keberhasilan. Setiap individu pasti berbeda- beda tingkat kedisiplinan dan tangun jawabnya namun dalam proses tangunjawab seseorang yang melakukan pekerjaan apapun terutama pendidik harus selalu menjunjung tinggi aturan serta menerapkan peraturan tersebut dengan keikhlasan tanpa ada keterpaksaan karena dengan guru yang disiplin dan penuh tanggunjab akan secara langsung mempengaruhi kedisiplinan peserta didik.

Lilis Wati (2019 skripsi), Kepala sekolah merupakan seorang pejabat yang profesional dalam organisasi sekolah yang bertugas mengatur dan mengawasi semua sumber daya yang ada di sekolah. Kepala sekolah mempunyai tantangan untuk dapat menjalankan pendidikan di sekolah agar lebih terarah. Berdasarkan hasil empirik Apriyanti Widiansyah. 2018. Sebagai perencana dan pengelola sumber daya, kepala sekolah harus melakukan kegiatan perencanaan dan pegelolaan yang berkaitan dengan menetapkan tujuan dan strategi untuk mencapai tujuan tersebut. Pada tahap perencanaan, kepala sekolah harus mampu merencanakan hal apa saja yang perlu dipersiapkan dalam perencanaan sarana dan prasarana. Pada tahap pengaturan, kepala sekolah merencanakan hal apa saja yang perlu dipersiapkan dalam pengaturan sarana dan prasarana. Pada tahap penggunaan, tidak ada proses perencanaan, hal itu dikarenakan sarana dan prasarana langusng digunakan saja, tidak perlu ada perencanaan. Pada tahap penghapusan, kepala sekolah harus mampu merencanakan barang apa saja yang perlu dihapus dari daftar inventaris.

Kepalah sekolah semakin displin karyawan maka akan semakin tinggi pula tingkat kinerja yang didapatkannya, selain itu tanggungjab belajar juga untuk peserta didik itu sendiri, artinya mampu menciptakan anak didik yang memulai semua pekerjaannya dengan penuh tanggunjab karena diketahui tangunjab tugas memanglah hal yang biasa- biasa saja namun itu sangat menjadi faktor penunjang keberhasilan proses pendidikan itu sendiri dan juga dalam proses pembelajaran karena kunci agar meraih kesuksesan yaitu dengan tanggunjawab pada tugas dan salah satu cara untuk meraih dengan keikhlasan dan kesadaran dari individu itu sendiri.

Berdasarkan realita yang disampaikan oleh Bapak Melkion Mote, S.S. Yang menjadi faktor pendorong dan penghambat Aktualisasi perankepala sekolah dalam melaksanakan dalam setiap kegiatan atau pekerjaan pasti terdapat kesalahan yang memang ada sebab akibatnya baik itu disengaja maupun tidak disengaja. Dalam Aktualisasi peranbagi kepalah sekolah ketika ada tugas keluar daerah untuk ikut kegiatan di provinsi sedangkan bagi guru yang kurang tanggungjawab tugasnya itu banyak faktor yang melatarbelakanginya seperti, kurangnya kesadarn dari dirinya sendiri, kurang ikhlas dalam melaksanakan pekerjaannya serta kurang terpenuhinya kebutuhan pribadinya.

Kedisiplinan itu sendiri bisa mencapai Menurut pendapat Bapak Matius Sapan, S.Pd. selaku kepala sekolah bahwa dalam mewujudkan Sekolah yang terampil dan berkualitas, menghasilkan peserta didik yang berkualitas, mampu bersaing dari segi apapun yang mempunyai mental yang bersih yang dapat memberikan contoh bagi anak- anak yang tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah. Mampu bersaing dengan sekolah luar kedisiplinan perlu ditanamkan serta menyesuaikan dengan kurikulum baru. Untuk itu guru dituntut agar selalu disiplin, membentuk sikap dan tanggung jawab yang baik dan positif supaya siswa yang diajarnya mampu mendapatkan contoh yang baik pula, serta guru diharapkan mampu mengenyampingkan urusan bagi guru yang tingkat kedisiplinannya tinggi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: tergerak dari diri individu itu sendiri, pekerjaan yang memang disenanginya sehingga tidak ada keluhan yang tidak bisa di sikapinya, adanya kesadaran akan fungsinya sebagai seorang pendidik dan merasa dirinya jadi tauladan bagi peserta didiknya, tuntutan dari sekolah, serta kebutuhan yang terpenuhi yang tidak mempengaruhi pemikirannya dalam mengajar menjadikan ia termotivasi untuk meraih kinerja yang baik.

Aktualisasi perankepala sekolah dalam melaksanakan kerja sama harmonis guru dan siswa SMA Negeri 1 Deiyai. Berdasarkan wawancara yang disampaikan oleh bapak melianus tekege S.Pt bahwa dengan dilaksanakannya fungsi tugas kepala sekolah yang dilaksanakan oleh pimpinan maka masalah-masalah yang sebenarnya yang ada dari individu itu sendiri yang mengakibatkan mereka tidak disiplin dan tugas seorang pimpinan adalah membuat tindak lanjut dari pelaksanaan dan memberikan sanksi atau reword bagi yang memang berhak mendapatkannya.

Berdasarkan hasil wawancara dari Narasumber yaitu Mariana Adii, S.Pdk, bahwa dengan dan laksanakannya fungsi tugas kepala sekolah yang dilaksanakan oleh pimpinan maka mampu mengetahui mendisplinkan guru dan siswa serta mengetahui masalah-masalah yang sebenarnya yang ada dari individu itu sendiri yang mengakibatkan kami tertip selalu di sekolah tindak lanjut dari pelaksanaan supervisi tersebut dan memberikan sanksi atau reword bagi yang memang berhak mendapatkannya itu membuat kami mejadi aktif. Demikian itu mampu meningkatkan kedisiplinan bagi guru yang kurang disiplin.

Berdasrakan hasil wawancara 04 November 2022 dengan melina Edowai, S.E. selalu disiplin memberitahu, menegur dan mengkomunikasi secara face to face. Kemudian ada diisi rapat-rapat kecil setiap hari senin setelah upacara bendera sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, ada masukan dari bapak ibu guru kepada pimpinan kepala sekolah, begitu juga sama kepala sekolah juga akan memberikan motivasi atau apa-apa yang baik dan yang belum baik, supaya ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi.

Pelaksanaan Aktualisasi perankepala sekolah melaksanakan kerja sama di SMA Negeri 1 Deiyai untuk menciptakan pendidikan yang bermutu dapat di ukur dari kualitas peserta didik dan juga pendidik, dengan hal itu masyarakat mampu menilai dari lulusan-lulusan yang dihasilkan oleh suatu lembaga tertentu yang menjadikan sekolah mampu diminati semua orang dan memberikan nilai-nilai yang positif. Jika lulusan-lulusan yang dihasilkan mendapatkan penilaian yang positif dari masyarakat maka pujian tersebut tidak terlepas dari seorang guru yang memberikan didikan dan pengajaran yang baik kepada peserta didik tersebut. Seorang pendidik memiliki tingkat kinerja yang baik itu tidak terlepas dari campur tangan oleh kepala sekolah yang membimbing, mengarahkan serta mengawasi setiap pekerjaan yang dilakukan oleh pendidik.

Aktualisasi perankepala sekolah dalam mengembangkan mutu pengetahuan guru-guru di SMA Negeri 1 Deiyai. Berdasarkan hasil wawancara dengan nara sumber bapak Melkion Mote, S.S. selaku Guru Bidang Studi Pelajaran Agama Katolik dan WKS bagian kesiswaan ada beberapa factor mengembangkan mutu pengetahuan guru Berdasarkan realita yang disampaikan oleh Bapak Melkion Mote, S.S. di atas dapat disimpulkan bahwa solusi itu datangnya dari diri kita sendiri dari keikhlasan masing- masing individu itu sendiri dan juga motivasi dari atasan berupa aturan yang harus ditaati oleh setiap individu dan salah satu yang mengharuskan seorang pendidik itu untuk disiplin dan pemberian kewenangan tugas kepada guru sebagai seorang figur yang dapat dicontoh oleh peserta didik. Pemimpin mampu membangkitkan semangat para staffnya agar kedisiplinan itu sendiri bisa mencapai.

Menurut pendapat Bapak Matius Sapan, S.Pd. selaku kepala sekolah di Sekolah ini beliau juga berpendapat bahwa dalam mewujudkan Sekolah yang terampil dan berkualitas, menghasilkan peserta didik yang berkualitas, mampu bersaing dari segi apapun yang mempunyai mental yang bersih yang dapat memberikan contoh bagi anak- anak yang tidak memiliki kesempatan untuk bersekolah serta mampu bersaing dengan sekolah luar kedisiplinan perlu ditanamkan serta menyesuaikan dengan kurikulum baru, dan kegiatan kegiatan bimtek terlaksana dengan baik.

Berdasrakan hasil wawancara 04 November 2022 dengan melina Edowai, S.E. selaku Guru mata Pelajaran menyatakan bahwa kalau ada guru yang misalnya tidak disiplin atau ada masalah itu pasti kepala sekolah akan memberitahu, menegur dan mengkomunikasi secara face to face. Kemudian ada diisi rapat-rapat kecil setiap hari senin setelah upacara bendera sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, ada masukan dari bapak ibu guru kepada pimpinan kepala sekolah, begitu juga sama kepala sekolah juga akan memberikan motivasi atau apa-apa yang baik dan yang belum baik, supaya ke depannya bisa menjadi lebih baik lagi.

Pelaksanaan Aktualisasi perankepala sekolah dalam mengembangkan mutu pengetahuan guru-guru di SMA Negeri 1 Deiyai pasti menemukan hambatan baik itu dari dalam diri guru itu sendiri ataupun faktor lain, tetapi sebagai kepala sekolah yang selalu menimplementasikan tugas dan tanggungjab sebuah instansi pastinya punya trik dan langkah-langkah yang diambil oleh kepala sekolah dalam mengembangkan mutu guru-guru yang tidak bertanggung jawab terhadap tugasnya dengan cara menegur secara lisan, menegur secara tulisan dan jika masih membandal maka diambil tindakan dengan mengajukan surat pemutasian ke atasan untuk yang PNS dan pemecatan untuk guru Non PNS.

Rahmi (2013), Kemampuan kepala sekolah yang dimaksud yang berhubungan dengan pengetahuan dan pemahaman mereka manajemen dan kepemimpinan, serta beban tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Karena tidak jarang kegagalan pendidikan dan pengajaran disekolah disebabkan oleh kurangnya pemahaman kepala sekolah terhadap tugas yang harus dilaksanakan. 1 Sebagai pemimpin, kepala sekolah harus mampu mengerakan potensi personal sekolah, meliputi kegiatan pengembangan staf dan guru, melaksanakan program evaluasi terhadap guru dan staf. Sebagai supervisor kepala sekolah mempunyai tugas memberikan bantuan teknis profesional pada guru-guru dalam merencanakan, melaksanakan dan mengevaluasi pengajar agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara maksimal. Dalam menjalankan tugas sebagai supervisor, kepala sekolah dapat memilih pendekatan yang tepat sesuai dengan masalah yang dihadapi guru. Supervisi tidak didefinisikan secara sempit sebagai satu cara terbaik untuk diterapkan disegala situasi melainkan perlu memperhatikan kemampuan individu.

Aktualisasi perankepala sekolah dalam membina hubungan kerja sama antara pendidik, kependidikan, siswa dan orang tua di SMA Negeri 1 Deiyai. Berdasarkan hasil wawancara dari Narasumber yaitu bapak Melianus Tekege S.Pt. Selaku TU administrasi yang menegaskan bahwa berdasarkan pandangan yang disampaikan oleh bapak melianus tekege S.Pt. di atas bahwa dengan dilaksanakannya fungsi tugas dan tanggungjawab kepala sekolah mensupervisi tersebut pengawasan yang dilaksanakan oleh pimpinan maka pengimplementasian supervisi mampu mengetahui tingkat kedisiplinan guru tersebut serta mengetahui masalah-masalah yang sebenarnya yang ada dari individu itu sendiri yang mengakibatkan mereka tidak disiplin dan tugas seorang pimpinan adalah membuat tindak lanjut dari pelaksanaan supervisi tersebut dan memberikan sanksi atau reword bagi yang memang berhak mendapatkannya. Demikian itu mampu meningkatkan kedisiplinan bagi guru yang kurang disiplin.

Sejalan dengan itu Bapak Matius Sapan, S.Pd. selaku Kepala Sekolah juga sepakat beliau mengatakan supervisi untuk membina hubungan kerja sama antara pendidik, kependidikan, siswa dan orang tua. Dengan adanya supervisi mampu meningkatkan hubungan kerja sama para karyawan yang tadinya guru tidak berhati-hati dalam pekerjaannya. jadi berhati-hati dan juga dari segi kehadirannya juga jadi perhatian guru . Sala satu hal yang sederhana yang kurang diperhatikan dari kerja sama itu sendiri adalah kehadiran dan kekompakan sambil mengontrol pimpinan atau kepala sekolah.

Selanjutnya, hasil wawancara dari Narasumber yaitu ibu yusra S,Pd Selaku Bagian Kurikulum menjelaskan bahwa tugas untuk membina hubungan kerja sama antara pendidik, kependidikan, siswa dan orang tua. Dengan adanya supervisi mampu meningkatkan hubungan kerja sama para karyawan yang tadinya guru tidak berhati-hati dalam pekerjaannya jadi berhati-hati dan juga dari segi kehadirannya juga jadi perhatian guru karena salah satu hal yang sederhana yang kurang diperhatikan dari kerja sama itu sendiri adalah kehadiran dan kekompakan sambil mengontrol pimpinan atau kepala sekolah.

Berdasarkan hasil wawancara dari Narasumber Anton Badi siswa kelas X IPA 1 menyatakan bahwa kepala sekolah dalam menjalankan kepemimpinannya senantiasa mengedepankan rasa persaudaraan, kekeluargaan dan membangun mitra kerja mulai dari Komite, Wali Murid, Setakeholders, Tokoh Masyarakat. Untuk membangun kerjasama tidak memandang bawahan sebagai alat saja untuk mencapai tujuan, tetapi lebih memandang bahwa bawahan juga manusia yang harus dikembangkan secara baik untuk bersamasama mencapai tujuan visi dan misi bersama. Tidak memandang bawahan sebagai pekerja.

Selanjtnya dari hasil wawancara diatas, terlihat bahwa kepala sekolah dalam melaksanakan kepemimpinannya, kepala sekolah terbuka dan menganggap bawahan sebagai mitra kerja, mendaya-gunakan saran dan menghargai semua ide- ide dari para siswa, serta membeikan keteladanan untuk kebaikan sekolah yang peneliti laksanakan, bahwa kepala sekolah yang memiliki wibawa tinggi, beliau merupakan sosok kepala sekolah yang dihormati, disegani dan pantas untuk dijadikan tauladan bagi anggotanya dan lebih kusus dari siswa.

Aktualisasi peran kepala sekolah dalam membina hubungan kerja sama antara pendidik, kependidikan, siswa dan orang tua di SMA Negeri 1 Deiyai terlihat bahwa kepala sekolah dalam melaksanakan kepemimpinannya, kepala sekolah terbuka dan menganggap bawahan sebagai mitra kerja, mendaya-gunakan saran dan menghargai semua ide- ide dari para siswa, serta membeikan keteladanan untuk kebaikan sekolah yang peneliti laksanakan, bahwa kepala sekolah yang memiliki wibawa tinggi, beliau merupakan sosok kepala sekolah yang dihormati, disegani dan pantas untuk dijadikan tauladan bagi anggotanya dan lebih kusus dari siswa. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan sala satu wawancara siswa kelas tiga di atas ini.

Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah, kesiswaan dan tata usaha bagian Administrasi dan siswa di atas dapat disimpulkan bahwa mengadakan rapat ruting dengan guru, selanjutnya kepalah sekolah dalam tiga bulan sekali mengadakan rapat bersama orang tua melalui Komite sekolah untuk evaluasi keharmonisan. Guru yang masih belum harmonis dengan siswa di bina dan arahkan agar tidak jadi masalah yang serius dalam hubungan harmonis antara guru, siswa dan orang tua dengan di undang orang tua dalam rapat dan memberikan kesempatan kepada guru wali untuk di dampingi kepada siswa. Setiap pagi selalu melaksanakan apel pagi.

KESIMPULAN

Kepala SMA N I Deiyai telah mengimplementasikan tugas kepala sekolah dalam membangkitkan dan merangsan Tendik dalam tugasnya masing-masing baik dari kesiapan mengajar hingga tanggung jawab pengelolaan  nilai.  Mengarahkan  serta mengawasi mulai dari perencanaan, proses hingga evaluasi dengan berpedoman pada aturan yang berlaku di SMA N1 Deiyai. melengkapi alat-alat perlengkapan sekolah demi kelancaran proses belajar-mengajar di kelas kepalah sekolah dapat diawali dengan mengidentifikasi kebutuhan yang menjadi perioritas dan melibatkan guru mata pelajaran untuk membicarakan program pembiayaanya.

Mengembangkan metode mengajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum baru namun ada kendala dari kurangnya sosialisai dari dinas terkait, kurannya buku sumber dan kurangnya disiplin dari guru maka kepalah sekolah selalu melakukan rapat ruting untuk mengefektifkan kedisiplinan guru. Melaksanakan kerja sama harmonis guru-guru mengadakan makan bersama tiga bulan sekali. siswa melakukan lomba masak memasak lomba tarian tradisional berkunjung keluarga yang duka, atau sakit.

Mengembangkan mutu pengetahun guru-guru melaksanakan bimtek yang di adakan di

Provinsi. Selanjutnya tes PPPK dan Tes nasioan dilaksanakan di SMA negeri 1 Deiyai guru di libatkan menjadi pengawas. selalu memberi contoh atau menjadi teladan, dan memberi reward bagi guru dan siswa yang berprestasi. Kepala sekolah memberikan kesempatan dan dukungan bagi guru dan staf dalam mengikuti pelatihan yang dapat meningkatkan jenjang karier, dan mendukung apapun kegiatan positif yang diinginkan guru dan staf. Membina hubungan kerja sama antara Tendik, siswa dan orang tua kepalah sekolah mengadakan rapat bersama orang tua melalui komite sekolah untuk evaluasi keharmonisan, Guru, sisiwa dan orangtua.

DAFTAR PUSTAKA

Al Arifin Akhmad Hidayatullah. (2012). Implementasi Pendidikan Multikultural Dalam Praksis Pendidikan Di Indonesia. Jurnal                                             Pembangunan Pendidikan:https://doi.org.100.21831/jppf a.v1i1.1052.

Anam, Ahmad Muzakkil (2016). Penanaman Nilai-nilai Multikultural di Perguruan Tinggi: studi kasus di Universitas Islam Malang (Masters thesis, Universitas Islam Negeri Malik Maulana Ibrahim. Diakses dari http://etheses.uin malang.ac.id/4076/

Ali Sudin, 2021 ‘Implementasi Supervisi Akademik Terhadap  Proses Pembelajaran di Sekolah Dasar Se Kabupaten Sumedang’.

Ahmad Muflih Akbar Romadlon ‘2020’ ‘ Implementasi Supervisi Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Profesionalitas Kinerja Guru di SD IT Alam Zaid.

Asy’ari Muhammad Nazhif (2015) : ‘Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Disiplin Guru di Madrasah Al- Washliyah Medan Krio Kecamatan Sunggal Kabupaten Deli Serdang’.

Ali Jamilah H., S.Pd.SD (2020), Aktualisasi peran Sekolah Sebagai Siupervisor Dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Guru Mata Pelajaran IPA Pada SDN Roja 1 Ende.

Baidhawy Zakiyuddin.2028. Pendidikan Agama

Berwawasan   Multikultural.  Jakarta: Penerbit Erlangga.

Balai Litbang Agama Jakarta. Pendidikan Agama Islam dalam Perspektif Multi- kulturalisme.

Jakarta: Saadah Cipta Mandiri.

Djaliel, Maman Abdul. 2010. Etika Manajemen Islam. Bandung: Pustaka Setia. Djamiko, Yayat Hayati. 2008. Perilaku Organisasi. Badung: Alfabeta. http://eprints.ung.ac.id.

Damyke  Selviyana  Safitri,  Titi  Prihatin1 ‘Implementasi  Peran

Fansyukri Hanifah Indra /2016 ‘Pelaksanaan Supervisi Pendidikan Oleh Kepalah Sekolah Terhadap Guru di SMA Pembangunan.

fitria Yani maisul yanimaisulfitria05@gmail.comPermasalahan Dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan Terkait Sumber Daya Guru di Sekolah’.

Islahudin NIM. 1423402096 ‘Implementasi Kepemimpinan Kepala Sekolah Madrasah Dalam Meningkatkan Kedisiplinan Guru Madrasa Aliah Negeri 2 Tanjung Pura Kabupaten Langkat.

Karwati Euis dan Riansa Donni Junni. 2016. Kinerja dan Profesionalisme Kepala Sekolah Membangun Sekolah yang Bermutu. Bandung: Alfabeta.

Katsir, Ibnu. 2012. Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir. Jakarta: Gema Insani. Kompri. 2015.

Manajemen Pendidikan – Jilid I. Badung: Alfabeta.

Mulyana Rohmat. 2004. Mengartikulasikan Pendidikan Nilai. Bandung: Alfabeta. Mulyasa. 2013. Manajemen dan Kepemimimpinan Kepala Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara. Ngalim Purwanto,2010. Administrasi Dan Supervisi Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya.

Nellitawati Nellitawati, (2013) ‘Jurnal Pedagogik Kontribusi Pengawasan Kepala Sekolah Terhadap Disiplin Kerja Guru SMA Negeri Di Kecamatan Koto Tangah Padang’.

Nazir Nadin. 1989.Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Jakarta: IKIP

Pidarta, M. 2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta: PT Asdi Mahasatya. Purwanto, M. N. 2008. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja, Rosdakarya.

Made Pidarta,. 2009. Supevisi Pendidikan Kontekstual, Jakarta : Rineka Cipta.

Piet .a sahertian, 2008. Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan : dalam Rangka Pengembangan Sumber Daya Manusia, . Jakarta : Rineka Cipta,

Piet A. Sahertian,. 2008. Konsep Dasar dan Tehnik Supervisi Pendidikan Dalam Rangka Mengembangkan SDM, Jakarta : Rineka Cipta ,.

Rumanama Labiru NIM : 190401061, Supervisi Kepala Sekolah Dalam Peningkatan Kinerja Guru Pendidikan Agama Islam Pada SMA N Maluku Tenggah Dikecamatan Kota Masohi Kabupaten Maluku Tengah.

Syaiful Sagala. 2013. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta.

Sholihah Faridhatus .2016. Implementasi Pendidikan Islam Multikultural Dalam Sikap Toleransi Beragama Siswa di Sekolah Menegah Pertama Mardi Sunu Surabaya (Skripsi, Universitas Islam Sunan Ampel Surabaya). Diakses dari http://digilib.uinsby.ac.id/0606/.

Syahrudi Taufiq Faja (2014): “Implementasi Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kedisiplinan Guru di Madrasah Aliyah Negeri 2 Tanjung Pura Kecamatan Tanjung Pura Kabupaten Langkat.

Silalahi Urber. 2009. Metode Penelitian Sosial. Bandung: Refaika Aditama.

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Suhardan Dadang, dkk. 2014. Manajemen Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Safrudin dan Basyiruddin, U. 2008. Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum. Jakarta: Ciputat Press.

Sagala, S. 2007. Manajemen Strategic dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sarwito. 1988. Dasar-dasar Organisasi dan Manajemen. Jakarta: Ghalia Indonesia,.

Suspandi Rustana Adiwinata. 1992. Materi Pokok Administrasi Pendidikan, (Jakarta: Depdikbud dan UT,.

Thoha Mifta. 2010. ManajemenDalam Manajemen. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Usman, M. U. 2000. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosdakarya.

Wahab Abdul Aziz. 2011. Anatomi Organisasi dan ManajemenPendidikan (Telaah Terhadap Organisasi dan Pengelolaan Organisasi Pendidikan). Bandung: Alfabeta.

Wati Lilis, 2019‘ Aktualisasi peran Sekolah Dalam Pelaksanaan Supervisi Administrasi Guru

Di SMA N 1 Meureubo Aceh Barat.

Tim Dosen. 1989. Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Jakarta: IKIP. Administrasi Pendidikan IKIP Jakarta

Zaril Gapari Muhamad STIT Palapa Nusantara zagap205@yahoo.co.id ‘Pelaksanaan Tekni Supervisi Dalam Upaya Meningkatkan Kinerja Guru Di SMPN 2 Jerowaru.

Zarkowi Suzoeh,. 1989 / 1990. Pedoman Pengelolaan Madrasah Tsanawiyah, Jakarta: Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Islam, Departemen A

PEMBINAAN IMAN ANAK BERBASIS MODERASI BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

Oleh Anselma Doo

Abstrak

Indonesia merupakan bangsa yang majemuk dengan keragaman agama, budaya, suku, dan bahasa. Dalam konteks masyarakat plural tersebut, pembinaan iman anak tidak hanya bertujuan membentuk pribadi yang beriman dan berakhlak, tetapi juga pribadi yang mampu hidup berdampingan secara damai dengan sesama yang berbeda keyakinan. Artikel ini mengkaji konsep pembinaan iman anak berbasis moderasi beragama dalam perspektif Pendidikan Agama Katolik. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan (library research) dengan menganalisis dokumen Gereja Katolik, ajaran Magisterium, serta berbagai penelitian mengenai moderasi beragama dan pendidikan agama. Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai-nilai moderasi beragama seperti toleransi, dialog, penghargaan terhadap martabat manusia, persaudaraan, dan cinta kasih telah menjadi bagian integral dalam ajaran Gereja Katolik. Pendidikan Agama Katolik memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai tersebut melalui keluarga, sekolah, dan komunitas Gerejani sehingga anak-anak mampu mengembangkan identitas iman yang kokoh sekaligus terbuka terhadap keberagaman.

Kata Kunci: Pembinaan Iman Anak, Moderasi Beragama, Pendidikan Agama Katolik, Toleransi, Pendidikan Karakter.

 

Pendahuluan

Indonesia selalu dikenal sebagai negara yang memiliki tingkat keberagaman yang tinggi. Kehidupan masyarakat yang plural menuntut setiap warga negara memiliki kemampuan untuk hidup berdampingan secara harmonis. Dalam situasi demikian, pendidikan memiliki tanggung jawab untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kematangan spiritual dan sosial.

Pada masa belakangan  ini, muncul berbagai tantangan yang mengancam kehidupan harmonis masyarakat, seperti intoleransi, eksklusivisme keagamaan, dan penyebaran ujaran kebencian melalui media digital. Karena itu, moderasi beragama menjadi salah satu pendekatan penting dalam pendidikan untuk menanamkan sikap toleran, menghargai perbedaan, dan menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama.

Dalam perspektif Gereja Katolik, pembinaan iman tidak sekadar mengajarkan doktrin dan praktik keagamaan, melainkan membentuk pribadi yang semakin serupa dengan Kristus, yang menghidupi kasih, perdamaian, dan penghormatan terhadap sesama manusia. Oleh karena itu, pembinaan iman anak berbasis moderasi beragama menjadi relevan untuk dikembangkan dalam Pendidikan Agama Katolik.

Metode Penelitian

Penulisan  ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari dokumen Gereja Katolik, artikel jurnal ilmiah, buku, dan hasil penelitian yang berkaitan dengan pembinaan iman anak, moderasi beragama, dan Pendidikan Agama Katolik. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, kategorisasi tema, interpretasi, dan sintesis konseptual.

Pembahasan

Pembinaan Iman Anak dalam Perspektif Pendidikan Agama Katolik

Dalam ajaran Gereja Katolik, anak merupakan anugerah Allah yang harus dibimbing agar bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih. Pendidikan iman pertama-tama berlangsung dalam keluarga yang disebut sebagai “Gereja rumah tangga” (Ecclesia Domestica). Dasar biblis pembinaan iman anak dapat ditemukan dalam beberapa kutipan Kitab Suci yakni: Ulangan 6:4–9 tentang kewajiban orang tua mengajarkan iman kepada anak, Matius 19:14, ketika Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku.” , dan  Matius 28:19–20 mengenai tugas Gereja untuk mengajar dan membaptis semua bangsa.

Dokumen Konsili Vatikan II, khususnya Gravissimum Educationis, menegaskan bahwa pendidikan Kristiani bertujuan membantu manusia berkembang secara utuh sesuai martabatnya sebagai citra Allah. Pembinaan iman anak dalam Pendidikan Agama Katolik mencakup: Pengembangan relasi pribadi dengan Allah, Pembentukan karakter Kristiani,  Penghayatan nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari, dan Keterlibatan dalam kehidupan Gereja dan masyarakat.

Konsep Moderasi Beragama

Pada  tahun 2019,  pemerintah  melalui  Kementerian  Agama  mencanangkan  “Tahun Moderasi Beragama”. Pada tahun  yang  sama,  sebuah  buku  bertajuk  Moderasi  Beragama  diterbitkan  oleh Badan  Badan  Litbang  dan  Diklat Kementerian  Agama  RI.  Dalam  buku tersebut  dijelaskan  bahwa  moderasi beragama  adalah  cara  pandang,  sikap, dan  perilaku  selalu  mengambil posisi  di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak  ekstrem  dalam  beragama  (Badan Litbang  dan  Diklat  Kementerian  Agama RI, 2019, pp. 17–18).

Moderasi beragama merupakan cara pandang dan praktik beragama yang mengedepankan keseimbangan, penghormatan terhadap perbedaan, serta penolakan terhadap sikap ekstrem. Dalam konteks pendidikan, moderasi beragama bertujuan membentuk peserta didik yang mampu hidup rukun di tengah keberagaman.  Ada Empat indikator moderasi beragama yang banyak digunakan dalam konteks Indonesia meliputi: Komitmen kebangsaan, Toleransi, Anti-kekerasan dan Akomodatif terhadap budaya lokal. Moderasi beragama bukanlah upaya mengurangi keyakinan seseorang terhadap agamanya, melainkan menjalankan ajaran agama secara seimbang dan menghormati hak orang lain untuk menjalankan keyakinannya.

Moderasi Beragama dalam Perspektif Gereja Katolik

Nostra  Aetate merupakan  salah  satu  dokumen  Gereja  Katolik yang  lahir  dari  hasil  Konsili Vatikan  II.  Dokumen Nostra  Aetate  disebut  juga  sebagai Deklarasi Nostra  Aetate ,yaitu pernyataan  tentang  hubungan  Gereja dengan agama-agama non Kristiani. Penghormatan Terhadap Agama-Agama Lain melalui  Dokumen  Nostra  Aetate Art.  2,  Gereja  Katolik  secara  resmi  menyatakan sikapnya terhadap agama-agama lain:

“Gereja  Katolik  tidak  menolak  apa  pun,  yang  dalam  agama-agama itu  serba  benar  dan  suci.  Dengan  sikap  hormat  yang  tulus,  Gereja  merenungkan  cara-cara  bertindak  dan  hidup,  kaidah-kaidah  serta  ajaran-ajaran, yang  memang  dalam  banyak  hal  berbeda  dari  apa  yang  diyakini  dan  diajarkannya  sendiri,  tetapi  tidak  jarang  toh  memantulkan sinar kebenaran, yang menerangi semua orang”.

Pernyataan  Gereja  di  atas  menunjukkan  sikap  hormat  dan  keterbukaan  Gereja terhadap agama-agama lain. Gereja  Katolik  merasa  terpanggil  untuk  memajukan  persatuan  dan  kasih  di  antara  umat  manusia. Gereja Katolik sejak Konsili Vatikan II memberikan perhatian besar terhadap dialog dan hubungan antaragama (Riyanto, 1995:53).

Prinsip-prinsip moderasi beragama dalam ajaran Katolik antara lain: 1) Martabat Manusia, bahwa Setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei). Karena itu setiap orang wajib dihormati tanpa memandang agama, suku, atau budaya. 2)  Kasih Universal, bahwa Yesus mengajarkan kasih kepada sesama bahkan kepada mereka yang berbeda atau dianggap musuh (Mat. 5:44). 3) Dialog, bahwa Dialog dipandang sebagai sarana membangun saling pengertian dan kerja sama demi kebaikan bersama. 3). Persaudaraan, bahwa Semua manusia merupakan satu keluarga besar yang dipanggil untuk hidup dalam damai dan solidaritas.

Model Pembinaan Iman Anak Berbasis Moderasi Beragama

Berdasarkan kajian literatur dan ajaran Gereja, maka model pembinaan iman anak berbasis moderasi beragama dapat dilakukan melalui tiga lingkungan utama yautu: 1) Keluarga, menjadi tempat pertama anak belajar menghargai perbedaan. Maka  Orang tua perlu: Menjadi teladan dalam sikap toleransi, Menghindari ujaran kebencian terhadap kelompok lain, Mengajarkan kasih Kristiani dalam kehidupan sehari-hari, dan Mengenalkan keberagaman sebagai anugerah Allah.  2) Sekolah: Pendidikan Agama Katolik perlu mengintegrasikan nilai moderasi beragama dalam pembelajaran melalui: Pembelajaran kontekstual,  Diskusi lintas budaya dan agama, Projek penguatan profil pelajar Pancasila, dan Kegiatan kolaboratif antar peserta didik yang berbeda agama. 3) Komunitas Gerejani Paroki dan komunitas basis dapat menyelenggarakan: Katekese anak berbasis dialog, Kegiatan sosial lintas agama, Perayaan hari besar nasional bersama, Program pelayanan kemanusiaan yang melibatkan berbagai kelompok masyarakat.

Implikasi bagi Pendidikan Agama Katolik

Pengembangan pembinaan iman anak berbasis moderasi beragama memiliki beberapa implikasi yaitu: 1) Kurikulum Pendidikan Agama Katolik perlu mengintegrasikan nilai toleransi dan dialog.  2) Guru agama harus menjadi teladan moderasi beragama. 3) Pembelajaran harus menekankan pengalaman hidup bersama dalam keberagaman. 4) Gereja perlu memperkuat kerja sama dengan keluarga dan sekolah dalam pembinaan anak.  Melalui pendekatan tersebut, anak tidak hanya memiliki identitas iman Katolik yang kuat, tetapi juga mampu menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat multikultural.

Kesimpulan

Pembinaan iman anak berbasis moderasi beragama merupakan kebutuhan mendesak dalam konteks masyarakat Indonesia yang plural. Pendidikan Agama Katolik memiliki landasan teologis dan pedagogis yang kuat untuk mengembangkan model pembinaan iman yang mengintegrasikan nilai kasih, toleransi, dialog, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Dengan melibatkan keluarga, sekolah, dan komunitas Gereja, pembinaan iman anak dapat menghasilkan generasi Katolik yang berakar kuat dalam iman sekaligus terbuka terhadap keberagaman demi terwujudnya persaudaraan dan perdamaian.

 

Daftar Pustaka

Ahmad, F. (2023). Aktualisasi Moderasi Beragama di Ranah Pendidikan Indonesia. Didaktika: Jurnal Pemikiran Pendidikan.

Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI. (2019). Moderasi Beragama. Kementerian Agama RI

Cakranegara, J. J. S. (2024). Identifikasi Tema Moderasi Beragama dalam Pendidikan Agama Katolik pada Kurikulum Merdeka. Jurnal Edutrained, 8(1), 1–10.

Konsili Vatikan II. (1965). Gravisimum Educationis (pernyataan tentang pendidikan Kristen). Dalam Hardiwiryana, R. (Penerj.). (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Yayasan Obor

Konsili Vatikan II. (1965). Nostra Aetate  (pernyataan tentang pendidikan Kristen). Dalam Hardiwiryana, R. (Penerj.). (1993). Dokumen Konsili Vatikan II. Jakarta: Yayasan Obor

Lembaga Alkitab Indonesia. (2023). Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: LBI

Mada, M. A., & Wilhelmus, O. R. (2022). Internalisasi Nilai Kebaikan Agama Lain Melalui Pendidikan Agama Katolik di Sekolah Menurut Nostra Aetate. JPAK: Jurnal Pendidikan Agama Katolik, 23(1), 72–84.

Politon, V. A., Wuwung, O. C., & Kalangi, S. Y. (2025). Formasi Iman dan Moderasi Beragama: Teologis-Pedagogis Membangun Sikap Toleran dalam Kekristenan di Era Pluralistik. Manna Rafflesia.

Riyanto, Armada F.X.E., 1995, Dialog Agama: dalam Pandangan Gereja Katolik. Yogyakarta: Kanisius

Sutrisno, E. (2019). Aktualisasi Moderasi Beragama di Lembaga Pendidikan. Jurnal Bimas Islam, 12(2), 323–348.

Add Your Heading Text Here

MODERASI BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF IMAN, KEMANUSIAAN, DAN TANGGUNG JAWAB DOSEN DI PERGURUAN TINGGI

Oleh:
Deki Tekege, S.Pel., M.M.Tr.

ABSTRAK

Moderasi beragama merupakan sikap, cara pandang, dan praktik kehidupan beragama yang menempatkan nilai iman secara seimbang dengan penghargaan terhadap martabat manusia. Dalam kehidupan perguruan tinggi, moderasi beragama menjadi bagian penting dalam membangun budaya akademik yang menghargai perbedaan, mengembangkan dialog, serta memperkuat persaudaraan lintas latar belakang.

Artikel ini merefleksikan pengalaman iman, nilai kasih, penderitaan, pengorbanan, dan pelayanan dalam terang ajaran Yesus Kristus sebagai dasar membangun sikap moderat. Iman yang benar tidak hanya diwujudkan dalam pengakuan pribadi kepada Tuhan, tetapi juga dalam tindakan nyata berupa kepedulian, penghormatan, dan pelayanan kepada sesama manusia tanpa membedakan latar belakang agama, budaya, maupun sosial.

Kata Kunci: Moderasi Beragama, Iman, Toleransi, Perguruan Tinggi, Pelayanan.

 

 1. PENDAHULUAN

Perguruan tinggi merupakan ruang akademik yang mempertemukan berbagai pemikiran, budaya, dan keyakinan. Oleh karena itu, dosen tidak hanya bertanggung jawab dalam pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki peran moral dalam membentuk karakter mahasiswa yang menghargai keberagaman.

Moderasi beragama tidak berarti melemahkan keyakinan iman seseorang, tetapi menghadirkan iman secara bijaksana, terbuka, dan penuh kasih. Setiap agama mengajarkan nilai kebaikan, kejujuran, kepedulian, dan penghormatan terhadap kehidupan manusia.

 

2. IMAN SEBAGAI DASAR MEMBANGUN SIKAP MODERAT

 

Dalam perspektif iman Kristiani, Yesus Kristus menghadirkan teladan kasih, pengampunan, pelayanan, dan kepedulian terhadap semua manusia. Yesus hadir bukan hanya sebagai pengajar iman, tetapi juga sebagai teladan kehidupan yang membela martabat manusia.

Nilai kasih yang diajarkan Yesus mengarahkan manusia untuk tidak hidup dalam kebencian, permusuhan, dan diskriminasi. Kasih menjadi dasar untuk membangun hubungan harmonis dengan sesama manusia.

 

3. MODERASI BERAGAMA MELALUI PELAYANAN DAN KEPEDULIAN

 

Pengalaman hidup manusia sering diwarnai penderitaan, perjuangan, dan keterbatasan. Namun pengalaman tersebut dapat menjadi ruang pembelajaran untuk memahami penderitaan orang lain.

Perguruan tinggi perlu mengembangkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademik, tetapi juga kecerdasan spiritual dan sosial. Dosen memiliki tanggung jawab membimbing mahasiswa agar mampu menggunakan ilmu untuk melayani kehidupan bersama.

 

4. PERAN DOSEN DALAM MEMBANGUN MODERASI BERAGAMA

 

Dalam konteks Sertifikasi Dosen, profesionalisme dosen tidak hanya dinilai dari kemampuan mengajar dan meneliti, tetapi juga dari kontribusi dalam membangun kehidupan akademik yang bermartabat.

Dosen perlu menjadi teladan dalam:
1. Menghargai perbedaan agama dan budaya;
2. Mengembangkan komunikasi yang santun;
3. Mendorong dialog dan kerja sama;
4. Menolak kekerasan atas nama agama;
5. Mengutamakan nilai kemanusiaan.

 

5. MODERASI BERAGAMA DI TANAH PAPUA

 

Kehidupan masyarakat Papua menunjukkan kekayaan budaya dan nilai persaudaraan. Nilai kebersamaan, saling membantu, dan penghargaan terhadap kehidupan merupakan modal sosial untuk memperkuat moderasi beragama.

Dalam konteks lokal Papua, iman harus hadir sebagai kekuatan yang menyatukan, bukan memisahkan. Pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab menjaga nilai-nilai tersebut melalui pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

 

6. KESIMPULAN

Moderasi beragama merupakan panggilan moral setiap insan akademik untuk menghadirkan iman dalam tindakan nyata. Keteladanan Yesus tentang kasih, pelayanan, penderitaan, dan pengorbanan memberikan inspirasi bahwa kehidupan beragama harus menghasilkan perdamaian dan penghormatan terhadap sesama.

Dosen sebagai pendidik profesional di perguruan tinggi memiliki tanggung jawab menjadi agen moderasi beragama melalui ilmu, sikap, dan pelayanan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Moderasi Beragama. Jakarta: Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI.

Lembaga Biblika Indonesia. (2016). Alkitab. Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia.

Konferensi Waligereja Indonesia. (1991). Allah Penyayang Kehidupan. Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka.

Darmawijaya, St. (1987). Gelar-Gelar Yesus. Yogyakarta: Kanisius.

52 MAHASISWA STK “TOUYE PAAPAA” DEIYAI IKUTI PKL  DI ENAM SEKOLAH MITRA

Deiyai, 15 April 2026 — Sekolah Tinggi Katolik (STK) “Touye Paapaa” Deiyai, Keuskupan Timika, secara resmi melepas sebanyak 52 mahasiswa untuk mengikuti kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL). Kegiatan pelepasan ini dilaksanakan pada Rabu, 15 April 2026, dan dipimpin oleh dosen pengampu mata kuliah PKL, Yulius Pekei, S.Pd., M.Pd., Gr.

PKL merupakan salah satu bagian penting dalam proses pendidikan di perguruan tinggi, yang bertujuan memberikan pengalaman nyata kepada mahasiswa dalam dunia kerja, khususnya di bidang pendidikan. Kegiatan ini akan berlangsung selama tiga bulan, dengan lokasi penempatan di enam sekolah mitra yang tersebar di Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah, yaitu: SD YPPK Mugouda, SD YPPK Damabagata, SMP Negeri 1 Tigi Timur, SD YPPK Egepakigida, SD Inpres Watiai, SD YPPK Edagotadi.

Dalam acara pelepasan tersebut, turut hadir mewakili Ketua Program Studi, Yohakim Tekege, S.S., M.M., serta unsur bagian akademik kampus.

Dalam arahannya, Yulius Pekei menegaskan bahwa kegiatan PKL bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan momentum penting bagi mahasiswa untuk mengaktualisasikan diri sebagai calon tenaga pendidik yang profesional. Ia mengingatkan seluruh peserta agar senantiasa menjaga nama baik almamater STK “Touye Paapaa” Deiyai selama menjalankan tugas di sekolah mitra.

“Kegiatan PKL ini adalah bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam aspek pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa diharapkan mampu menunjukkan kompetensi yang utuh, baik dari sisi kognitif, afektif, maupun psikomotorik,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia berharap para mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar secara langsung dari situasi nyata di lapangan, membangun relasi yang baik dengan pihak sekolah, serta memberikan kontribusi positif bagi peningkatan mutu pendidikan di daerah.

Melalui kegiatan PKL ini, STK “Touye Paapaa” Deiyai terus berkomitmen dalam mencetak calon guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, dedikasi, dan kepedulian terhadap masyarakat, khususnya di tanah Papua.

=================

Peliput: Yulius Pekei, S.Pd., M.Pd., Gr.

Ekoteologi: Antara Spiritualitas dan Aksi Nyata “Cinta Alam, Cinta Kehidupan” Oleh: Martinus Doo, S.Ag. , M.Pd. , Gr.*

Pagi itu langit cerah. Burung-burung berkicau riang. Udara terasa segar, dan sinar matahari masuk ke sela-sela dedaunan. Tapi, pemandangan itu tidak selalu bisa kita nikmati sekarang. Di banyak tempat, udara kotor, sampah berserakan, dan pohon-pohon ditebang habis.
Kita sedang hidup di dunia yang tengah berubah. Bukan hanya karena teknologi atau gaya hidup, tapi juga karena bumi ini sedang menjerit. Suhu semakin panas. Udara semakin sulit. Hutan semakin sempit. Kadang-kadang kita bertanya-tanya: “Apa yang sedang terjadi? Dan apa yang bisa saya lakukan? “

Pertanyaan itulah yang membawa kita pada ekoteologi — sebuah cara pandang yang menggabungkan iman dan kepedulian terhadap lingkungan? Ini bukan soal ilmu tinggi. Ini soal kesadaran sederhana bahwa bumi ini diciptakan Tuhan dan kita punya tanggung jawab untuk menjaganya.

Iman yang Menyatu dengan Bumi

Sebagian dari kita mungkin merasa bahwa soal lingkungan adalah urusan orang lain—aktivis, pemerintah, atau orang-orang yang belajar ilmu lingkungan. Tapi, sebenarnya, setiap orang beriman adalah juga seorang “penjaga ciptaan”.

Dalam Kitab Kejadian, Tuhan menciptakan bumi ini “baik adanya”, dan mempercayakan kepada manusia untuk “mengusahakan dan memeliharanya” (Kej 2:15). Artinya, sejak awal, manusia dipanggil bukan untuk merusak, tapi untuk merawat.

Iman sejati tidak berhenti di altar, mimbar, atau ruang doa. Iman yang hidup akan menyentuh tanah yang kita pijak, udara yang kita hirup, dan sungai yang mengalir di sekitar kita. Saat kita melihat alam sebagai ciptaan Tuhan, maka setiap tindakan kita terhadap lingkungan juga menjadi bentuk ibadah. Menanam pohon bisa menjadi doa. Memungut sampah di jalan bisa menjadi pujian. Menghemat air dan listrik bisa menjadi bentuk puasa yang sederhana namun berarti.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang memisahkan antara iman dan dunia. Mereka berpikir bahwa yang rohani hanya yang berkaitan dengan ibadah formal, sementara alam adalah sesuatu yang biasa saja. Padahal, kehadiran Allah tidak terbatas di tempat ibadah. Ia hadir juga di semilir angin, di warna-warni bunga, dan dalam kesunyian hutan. Maka, ketika kita menjaga bumi, sebenarnya kita sedang menjaga ruang perjumpaan dengan Tuhan. Bumi adalah “bait Allah yang pertama”—yang dibangun langsung oleh tangan-Nya sendiri.


Cinta yang Terwujud dalam Tindakan

Cinta pada alam bukan hanya soal kata-kata indah di spanduk atau status media sosial. Cinta butuh bukti. Dan bukti itu harus bisa terlihat dalam tindakan kecil kita setiap hari. Saat kita tidak membakar sampah sembarangan—itu cinta. Saat kita membawa tumbler sendiri agar tidak beli air kemasan plastik—itu cinta.

Saat kita ikut menanam pohon, membersihkan lingkungan, atau mengajak anak-anak bermain sambil mengenal alam—itu cinta yang nyata.

Cinta sejati selalu menuntut pengorbanan, walau kecil. Kadang butuh repot sedikit, seperti memisahkan sampah organik dan anorganik, atau berjalan kaki saat jaraknya dekat. Tapi di situlah nilai dari cinta itu tumbuh. Karena cinta yang hanya disimpan dalam hati, tanpa diwujudkan dalam aksi, hanyalah niat baik yang tidak pernah selesai. Justru lewat tindakan-tindakan sederhana itu, kita menunjukkan bahwa kita peduli, bahwa kita mau menjadi bagian dari solusi.

Banyak dari kita menunggu gerakan besar atau proyek pemerintah untuk menyelamatkan lingkungan. Tapi sesungguhnya, perubahan itu dimulai dari meja makan kita, dari halaman rumah kita, dari pilihan-pilihan harian yang tampaknya kecil. Saat semakin banyak orang melakukan tindakan kecil dengan penuh kesadaran, maka dampaknya akan menjadi gerakan besar yang membawa harapan. Karena bumi tidak hanya butuh orang pintar, tapi juga butuh orang yang sungguh-sungguh mencintainya.


ASN, Guru, Orang Tua, Kaum Muda: Semua Punya Peran

Menjaga bumi bukan tugas satu orang atau satu kelompok saja. Ini adalah tanggung jawab bersama. Setiap kita—apapun profesinya, berapapun usianya, dan di manapun berada – punya peran penting. Bumi ini adalah rumah bersama, dan kita semua adalah penghuninya. Maka, siapa pun kita, kita dipanggil untuk menjadi bagian dari gerakan cinta alam yang nyata.

Para ASN (Aparatur Sipil Negara), misalnya, memegang peran strategis dalam membentuk kebijakan dan menjadi teladan di lingkungan kerja maupun masyarakat. Ketika ASN hidup sederhana, hemat energi, menolak pemborosan, dan tidak melakukan pencemaran, itu menjadi contoh konkret bagi warga. Bahkan, membuat program-program pemerintah yang berpihak pada lingkungan bisa menjadi bentuk pelayanan publik yang mulia. ASN bukan hanya pelayan negara, tapi juga pelayan bumi ciptaan Tuhan.

Para guru dan pendidik juga memiliki tanggung jawab istimewa. Di tangan mereka, generasi muda dibentuk bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan nilai. Mengajarkan murid mencintai lingkungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana: membiasakan membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan kelas, membuat taman sekolah, hingga membawa topik lingkungan ke dalam pelajaran. Lebih dari itu, guru juga bisa menanamkan makna spiritual di balik tindakan menjaga lingkungan—bahwa mencintai alam adalah bagian dari mencintai Tuhan dan sesama.

Orang tua dan kaum muda pun tak kalah penting. Orang tua adalah guru pertama di rumah. Mereka bisa mengajarkan anak-anak menghargai alam sejak kecil—dari tidak merusak tanaman, mencintai hewan, hingga bijak dalam menggunakan air dan listrik. Sementara itu, kaum muda memiliki energi, kreativitas, dan pengaruh luar biasa. Lewat media sosial, musik, komunitas, dan gaya hidup mereka, pesan cinta lingkungan bisa menyebar luas dan membentuk budaya baru yang lebih ramah terhadap bumi. Bila kaum muda bergerak, perubahan besar bisa dimulai dari sekarang.


Kita Tidak Bisa Diam Lagi


Bumi ini rumah kita bersama. Kalau rumah kita rusak, kita semua yang akan menderita. Tidak peduli kaya atau miskin, tua atau muda. Maka, sudah waktunya kita berhenti menjadi penonton, dan mulai menjadi pelaku perubahan.

Kita tidak bisa lagi bersikap netral di hadapan krisis ekologi. Diam berarti membiarkan kehancuran terus berlangsung. Ketidakpedulian adalah bentuk keterlibatan pasif yang ikut memperparah luka bumi. Mungkin kita merasa kecil dan tidak berarti, tetapi justru dari tindakan-tindakan sederhana itulah perubahan dimulai. Kita tidak harus menyelamatkan dunia sendirian, tapi kita bisa mulai menyelamatkan sudut kecil di mana kita tinggal, bekerja, dan berdoa.

Bayangkan jika setiap rumah menjadi tempat yang ramah lingkungan. Setiap kantor menjadi tempat yang hemat energi. Setiap sekolah mengajarkan anak-anak untuk mencintai bumi. Setiap gereja, masjid, pura, dan rumah ibadah menjadi ruang pembelajaran untuk merawat ciptaan. Maka, perlahan tapi pasti, kita sedang membangun peradaban yang baru—peradaban cinta, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama dan seluruh ciptaan. Dunia tidak berubah karena segelintir orang melakukan sesuatu yang besar, tetapi karena banyak orang melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar.


Ekoteologi bukan teori, tapi cara hidup


Ekoteologi bukan sekadar konsep yang dibicarakan di ruang kuliah atau seminar gereja. Ia adalah panggilan untuk menghidupi iman dengan cara yang membumi—secara harfiah. Ini bukan tentang memahami ayat demi ayat secara intelektual, tapi tentang bagaimana ayat-ayat itu menuntun kita mencintai alam dalam keseharian. Bukan lagi soal wacana besar, tapi soal bagaimana kita mencuci tangan tanpa membuang air berlebih, membungkus makanan tanpa plastik, atau memilih berjalan kaki saat bisa.

Cara hidup yang ekoteologis menempatkan manusia bukan sebagai penguasa atas ciptaan, tapi sebagai penjaga. Kita hidup tidak untuk menghisap habis isi bumi, melainkan untuk menjaga keseimbangan agar kehidupan tetap berlanjut. Saat kita sadar bahwa kita dan alam saling bergantung satu sama lain, kita mulai hidup lebih bijak: mengambil secukupnya, menggunakan seperlunya, dan mengembalikan semampunya. Inilah spiritualitas yang hidup—yang tidak hanya menyentuh hati, tapi juga tanah, air, dan udara di sekitar kita.

Lebih jauh, cara hidup seperti ini menumbuhkan sikap rendah hati. Kita jadi tahu bahwa manusia bukan pusat segalanya. Kita hanyalah satu dari sekian banyak makhluk dalam satu ekosistem besar yang dirancang oleh Tuhan dengan sangat indah dan seimbang. Dengan kesadaran ini, kita belajar untuk tidak serakah, tidak boros, tidak semena-mena terhadap alam. Kita belajar untuk hidup bersahabat, bukan bermusuhan, dengan ciptaan lain.

Akhirnya, ekoteologi bukanlah gerakan sesaat karena tren isu lingkungan. Ini adalah laku panjang, konsisten, dan penuh kesadaran. Ia menyentuh pola konsumsi, cara berpikir, dan cara kita memandang hidup. Setiap pilihan—dari belanja di pasar sampai membuang sampah—adalah bagian dari ibadah kita kepada Tuhan. Karena dalam dunia yang sedang terluka ini, cinta pada bumi bukan pilihan tambahan. Ia adalah bagian dari kesetiaan kita sebagai umat beriman.


Penutup: Cinta Alam Adalah Cinta Kehidupan

Mari kita jaga bumi ini bukan karena kita takut bencana, tapi karena kita menghargai kehidupan. Karena kita percaya, bahwa di balik pepohonan yang tumbuh, sungai yang mengalir, dan langit yang biru, ada wajah Tuhan yang sedang tersenyum.

Ketika kita mencintai bumi, kita sedang mencintai kehidupan. Dan saat kita mencintai kehidupan, kita sedang menghormati Sang Pemberi Hidup itu sendiri.

Cinta pada alam tidak harus dimulai dari hal besar. Ia bisa berawal dari satu langkah kecil yang dilakukan dengan niat baik. Mungkin dari hari ini kita mulai mematikan lampu saat tidak digunakan, membawa tas belanja sendiri, atau menyiram tanaman setiap pagi. Meski kecil, itu adalah bentuk kasih yang nyata. Dan kasih yang terus dirawat akan menjadi kebiasaan, lalu menjadi budaya, dan akhirnya menjadi kesaksian hidup yang menginspirasi orang lain.

Mari kita menjadi bagian dari generasi yang tidak hanya mewariskan bangunan dan teknologi, tetapi juga udara yang bersih, air yang jernih, dan tanah yang subur untuk anak cucu kita. Dunia ini bukan milik kita sepenuhnya, tapi titipan yang harus kita rawat. Maka, saat kita berjalan bersama—dengan iman, harapan, dan cinta—kita percaya bahwa perubahan bukan hanya mungkin, tapi pasti terjadi. Karena ketika kasih bertemu aksi nyata, bumi pun ikut disembuhkan.

“Jagalah bumi seperti engkau menjaga ibumu. Cintailah alam seperti engkau mencintai anakmu. Karena kehidupan ini akan terus berlanjut kalau kita hidup dalam cinta yang nyata.”

 

*Nomor Kontak Telp/WA: 082143333336; e-mail: doomartinus1@gmail.com

Add Your Heading Text Here

Lise Meitner: Jenius Atom yang Menolak Menjadi Dewa Perusak

Oleh: Martinus Doo
Kategori: Ilmu Pengetahuan & Sosok | Esai Populer

“Saya tidak mempelajari fisika untuk menghancurkan umat manusia.”
— Lise Meitner

Di tengah sejarah besar yang dipenuhi nama-nama lelaki agung seperti Einstein, Oppenheimer, dan Bohr, ada satu nama yang nyaris hilang dalam sunyi: Lise Meitner. Padahal, tanpa dirinya, bom atom mungkin hanya akan menjadi gagasan liar di atas kertas. Ironisnya, dia menemukan formula untuk melepaskan kekuatan luar biasa dalam inti atom — dan kemudian menolak menggunakannya untuk membinasakan umat manusia.

Siapa sebenarnya Lise Meitner? Dan mengapa namanya seperti sengaja disembunyikan dari podium kehormatan dunia sains?

Penemuan di Tengah Pengasingan

Tahun 1938, di tengah gempuran fasisme Nazi dan diskriminasi rasial terhadap Yahudi, Lise Meitner melarikan diri dari Jerman. Dia seorang fisikawan berkebangsaan Austria berdarah Yahudi yang telah mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang menjadi profesor fisika di Universitas Berlin — prestasi yang langka pada zamannya.

Namun, pelariannya tidak menghentikan otaknya yang tajam. Dalam perjalanan kereta api menuju Swedia, bersembunyi di toilet kereta, ia mencoret kertas-kertas, menghitung ulang data hasil eksperimen bersama Otto Hahn, rekannya di laboratorium. Dan di sanalah, dalam sunyi dan keterasingan, Meitner menyadari sesuatu yang luar biasa: inti uranium yang dibelah akan melepaskan energi dalam jumlah besar, sesuai dengan rumus Einstein: E = mc².

Penemuan ini dinamai “fisi nuklir”, dan menjadi dasar utama terciptanya senjata nuklir pertama di dunia.

Namun dunia tidak mencatatnya demikian.

Hilangnya Nama di Podium Nobel

Setahun kemudian, Hadiah Nobel Kimia 1944 diberikan kepada Otto Hahn saja. Nama Meitner dihapus dari makalah. Tak ada undangan, tak ada penghargaan, bahkan sekadar pengakuan.

Padahal, Hahn hanyalah ahli kimia yang menyaksikan pecahnya atom di laboratorium. Meitnerlah yang menjelaskan bagaimana dan mengapa itu terjadi secara fisika — membuat hubungan antara data eksperimen dan energi nuklir menjadi masuk akal.

Ketika orang-orang bertanya mengapa dia tidak menuntut pengakuan, Meitner hanya menjawab dengan tenang: “Saya tidak ingin dikenal karena penghargaan, saya ingin dikenal karena apa yang saya tidak lakukan — saya tidak membuat bom.”

 

Perempuan di Lorong Bawah Tanah

Sepanjang kariernya, Lise Meitner hidup dalam bayang-bayang laki-laki. Ia sempat tidak diperbolehkan masuk ke laboratorium lewat pintu utama. Ia ditawari menyelinap lewat lorong bawah tanah, karena dia adalah perempuan. Di institut tempatnya bekerja, tidak ada asrama bagi peneliti wanita — maka Meitner tidur di bawah meja laboratorium.

Namun hal itu tidak menghentikannya. Dengan kerja keras, perhitungan teliti, dan dedikasi tanpa pamrih, dia menjadi guru dari banyak fisikawan nuklir besar Eropa. Dia bukan pendamping — dia pemimpin. Hanya saja, sejarah belum siap menaruh mahkota di kepala seorang wanita.

Penolakan yang Bermoral

Saat Proyek Manhattan mengajak Meitner bergabung dalam pengembangan bom atom, dia menolak. Baginya, sains adalah cahaya, bukan senjata. Ia ingin kekuatan atom dimanfaatkan untuk kehidupan — bukan kematian.

Penolakannya dianggap ‘tidak praktis’ oleh banyak rekan sejawat. Namun hari ini, kita tahu siapa yang berada di sisi yang benar dalam sejarah.

Ia tidak pernah diberi gelar “Ibu Bom Atom” secara resmi. Ia bahkan tidak disebut “Nenek Sains Nuklir.” Karena dalam dunia yang membangun narasi jenius sebagai sosok pria berjas putih dan rambut berantakan, perempuan jenius kerap hanya disebut ‘asisten’ atau ‘inspirasi moral’.

Namun Meitner bukan hanya suara hati nurani. Ia memiliki rumus, data, dan nalar — semuanya. Ia adalah jenius. Titik.

Penutup: Cahaya dari Meja yang Sepi

Lise Meitner wafat pada tahun 1968 dalam kesunyian. Tak ada ledakan, tak ada parade. Tapi warisannya perlahan diakui. Unsur nomor 109 dalam tabel periodik dinamai Meitnerium (Mt) — penghormatan kecil untuk warisan besar.

Hari ini, dalam dunia yang masih belajar mengenali suara perempuan dalam sains, kisah Meitner adalah pengingat: bahwa integritas dan kebijaksanaan jauh lebih langka daripada kecerdasan. Bahwa menemukan sesuatu bukan berarti harus menggunakannya untuk menghancurkan. Dan bahwa kadang-kadang, keberanian sejati adalah mengatakan tidak — meski seluruh dunia berkata ya.

Keterangan Tambahan


Lise Meitner (1878–1968) adalah seorang fisikawan teoretis kelahiran Austria, yang dikenal sebagai salah satu penemu fisi nuklir bersama Otto Hahn. Ia dicalonkan 48 kali untuk Hadiah Nobel, namun tidak pernah menang.

Lise Meitner: Jenius Atom yang Menolak Menjadi Dewa Perusak

Oleh: Martinus Doo
Kategori: Ilmu Pengetahuan & Sosok | Esai Populer

“Saya tidak mempelajari fisika untuk menghancurkan umat manusia.”
— Lise Meitner

Di tengah sejarah besar yang dipenuhi nama-nama lelaki agung seperti Einstein, Oppenheimer, dan Bohr, ada satu nama yang nyaris hilang dalam sunyi: Lise Meitner. Padahal, tanpa dirinya, bom atom mungkin hanya akan menjadi gagasan liar di atas kertas. Ironisnya, dia menemukan formula untuk melepaskan kekuatan luar biasa dalam inti atom — dan kemudian menolak menggunakannya untuk membinasakan umat manusia.

Siapa sebenarnya Lise Meitner? Dan mengapa namanya seperti sengaja disembunyikan dari podium kehormatan dunia sains?

Penemuan di Tengah Pengasingan

Tahun 1938, di tengah gempuran fasisme Nazi dan diskriminasi rasial terhadap Yahudi, Lise Meitner melarikan diri dari Jerman. Dia seorang fisikawan berkebangsaan Austria berdarah Yahudi yang telah mencatat sejarah sebagai perempuan pertama yang menjadi profesor fisika di Universitas Berlin — prestasi yang langka pada zamannya.

Namun, pelariannya tidak menghentikan otaknya yang tajam. Dalam perjalanan kereta api menuju Swedia, bersembunyi di toilet kereta, ia mencoret kertas-kertas, menghitung ulang data hasil eksperimen bersama Otto Hahn, rekannya di laboratorium. Dan di sanalah, dalam sunyi dan keterasingan, Meitner menyadari sesuatu yang luar biasa: inti uranium yang dibelah akan melepaskan energi dalam jumlah besar, sesuai dengan rumus Einstein: E = mc².

Penemuan ini dinamai “fisi nuklir”, dan menjadi dasar utama terciptanya senjata nuklir pertama di dunia.

Namun dunia tidak mencatatnya demikian.

Hilangnya Nama di Podium Nobel

Setahun kemudian, Hadiah Nobel Kimia 1944 diberikan kepada Otto Hahn saja. Nama Meitner dihapus dari makalah. Tak ada undangan, tak ada penghargaan, bahkan sekadar pengakuan.

Padahal, Hahn hanyalah ahli kimia yang menyaksikan pecahnya atom di laboratorium. Meitnerlah yang menjelaskan bagaimana dan mengapa itu terjadi secara fisika — membuat hubungan antara data eksperimen dan energi nuklir menjadi masuk akal.

Ketika orang-orang bertanya mengapa dia tidak menuntut pengakuan, Meitner hanya menjawab dengan tenang: “Saya tidak ingin dikenal karena penghargaan, saya ingin dikenal karena apa yang saya tidak lakukan — saya tidak membuat bom.”

 

Perempuan di Lorong Bawah Tanah

Sepanjang kariernya, Lise Meitner hidup dalam bayang-bayang laki-laki. Ia sempat tidak diperbolehkan masuk ke laboratorium lewat pintu utama. Ia ditawari menyelinap lewat lorong bawah tanah, karena dia adalah perempuan. Di institut tempatnya bekerja, tidak ada asrama bagi peneliti wanita — maka Meitner tidur di bawah meja laboratorium.

Namun hal itu tidak menghentikannya. Dengan kerja keras, perhitungan teliti, dan dedikasi tanpa pamrih, dia menjadi guru dari banyak fisikawan nuklir besar Eropa. Dia bukan pendamping — dia pemimpin. Hanya saja, sejarah belum siap menaruh mahkota di kepala seorang wanita.

Penolakan yang Bermoral

Saat Proyek Manhattan mengajak Meitner bergabung dalam pengembangan bom atom, dia menolak. Baginya, sains adalah cahaya, bukan senjata. Ia ingin kekuatan atom dimanfaatkan untuk kehidupan — bukan kematian.

Penolakannya dianggap ‘tidak praktis’ oleh banyak rekan sejawat. Namun hari ini, kita tahu siapa yang berada di sisi yang benar dalam sejarah.

Ia tidak pernah diberi gelar “Ibu Bom Atom” secara resmi. Ia bahkan tidak disebut “Nenek Sains Nuklir.” Karena dalam dunia yang membangun narasi jenius sebagai sosok pria berjas putih dan rambut berantakan, perempuan jenius kerap hanya disebut ‘asisten’ atau ‘inspirasi moral’.

Namun Meitner bukan hanya suara hati nurani. Ia memiliki rumus, data, dan nalar — semuanya. Ia adalah jenius. Titik.

Penutup: Cahaya dari Meja yang Sepi

Lise Meitner wafat pada tahun 1968 dalam kesunyian. Tak ada ledakan, tak ada parade. Tapi warisannya perlahan diakui. Unsur nomor 109 dalam tabel periodik dinamai Meitnerium (Mt) — penghormatan kecil untuk warisan besar.

Hari ini, dalam dunia yang masih belajar mengenali suara perempuan dalam sains, kisah Meitner adalah pengingat: bahwa integritas dan kebijaksanaan jauh lebih langka daripada kecerdasan. Bahwa menemukan sesuatu bukan berarti harus menggunakannya untuk menghancurkan. Dan bahwa kadang-kadang, keberanian sejati adalah mengatakan tidak — meski seluruh dunia berkata ya.

Keterangan Tambahan


Lise Meitner (1878–1968) adalah seorang fisikawan teoretis kelahiran Austria, yang dikenal sebagai salah satu penemu fisi nuklir bersama Otto Hahn. Ia dicalonkan 48 kali untuk Hadiah Nobel, namun tidak pernah menang.

 

STK “Touye Paapaa” Deiyai-Keuskupan Timika, Resmi Melepas 29 Mahasiswa KKN ke Paroki Santa Perawan Maria Kemugepa

Deiyai, 2 Mei 2025 – Di Hari Pendidikan Nasional, Sekolah Tinggi Katolik (STK) Touye Paapaa Deiyai secara resmi melepas 29 mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Paroki Santa Perawan Maria, Kemugepa. Kegiatan ini berlangsung selama satu setengah bulan, terhitung mulai 2 Mei hingga 15 Juni 2025.

 

Acara pelepasan dimulai dengan doa bersama, dilanjutkan dengan sambutan dari para dosen sebagai bekal rohani, moral, dan akademik bagi para mahasiswa sebelum mereka terjun ke tengah umat.

Dalam sambutannya, Marius Goo, S.S., M.Fil selaku Dosen Pendamping Lapangan (DPL), menyampaikan apresiasi kepada para dosen pengampu mata kuliah yang telah mempersiapkan mahasiswa melalui pembekalan sebelumnya. Ia berpesan kepada peserta KKN untuk menjaga nama baik kampus dan menunjukkan jati diri sebagai pendidik agama Katolik yang menjadi garda terdepan dalam pewartaan iman. “KKN bukan sekadar program kampus, tetapi bagian dari Tri Darma Perguruan Tinggi: pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Oktovianus Pekei, S.S., M.Sc, selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah KKN, mengingatkan agar mahasiswa menjalankan kegiatan sesuai dengan program kerja yang telah dirancang berdasarkan kebutuhan umat. Ia menekankan pentingnya sikap rendah hati dalam belajar dari umat, selain tugas utama mengajar. “Jaga kekompakan, kerja sama, dan nama baik lembaga selama berada di lapangan,” pesannya.

Penjabat Ketua STK “Touye Paapaa”, Martinus Doo, S.Ag., M.Pd., Gr turut memberikan sambutan hangat. Ia menegaskan bahwa peran mahasiswa di tengah umat tidak hanya sebagai guru, tetapi juga sebagai pembelajar. “Bergurulah pada umat: pelajari budaya, adat istiadat, dan nilai-nilai kehidupan yang ada di tengah mereka,” ujarnya penuh harap.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama dan sesi foto untuk mengabadikan momen kebersamaan. Selanjutnya, para mahasiswa siap diberangkatkan menuju lokasi KKN untuk melanjutkan misi pelayanan dan pembelajaran iman Katolik secara nyata.

Peliput: Marius Goo, S.S., M.Fil

TANTANGAN DAN HARAPAN GURU AGAMA KATOLIKDI ERA KEMAJUAN TEKNOLOGI INFORMASI

Sr. Leonarda Berkasa, S.Pd

  1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kemajuan teknologi informasi telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam dunia pendidikan. Transformasi digital telah memperkenalkan berbagai inovasi dalam metode pembelajaran, seperti e-learning, penggunaan media sosial sebagai sarana edukasi, serta pemanfaatan aplikasi berbasis teknologi untuk mendukung proses pembelajaran. Di satu sisi, perkembangan ini memberikan kemudahan dalam mengakses sumber belajar yang lebih luas. Namun, di sisi lain, kemajuan ini juga menghadirkan tantangan baru bagi tenaga pendidik, khususnya guru agama Katolik, dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka.

Guru agama Katolik memiliki peran penting dalam membimbing peserta didik untuk memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran iman Katolik dalam kehidupan sehari-hari. Selain sebagai pengajar, mereka juga bertindak sebagai pendamping rohani yang membentuk karakter dan moral peserta didik sesuai dengan nilai-nilai Kristiani. Namun, di era kemajuan teknologi informasi, peran ini menghadapi berbagai tantangan, seperti kurangnya literasi digital, melimpahnya informasi keagamaan yang belum tentu valid, serta berkurangnya interaksi langsung dalam pembelajaran akibat peralihan ke sistem daring.

Meskipun menghadapi tantangan tersebut, era digital juga membuka peluang bagi guru agama Katolik untuk mengembangkan metode pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif. Penggunaan platform digital, seperti YouTube, Google Classroom, dan media sosial, dapat dijadikan sarana untuk menyampaikan materi ajar dengan lebih efektif. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman mendalam mengenai tantangan dan harapan guru agama Katolik dalam menghadapi kemajuan teknologi informasi agar mereka dapat menyesuaikan diri dan tetap menjalankan tugasnya secara optimal.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini berusaha menjawab beberapa pertanyaan berikut:

  1. Bagaimana perkembangan teknologi informasi memengaruhi peran guru agama Katolik dalam dunia pendidikan?
  2. Apa saja tantangan utama yang dihadapi guru agama Katolik dalam menghadapi era kemajuan teknologi informasi?
  3. Bagaimana harapan dan strategi yang dapat dilakukan oleh guru agama Katolik agar tetap efektif dalam menjalankan tugasnya di era digital?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Menganalisis dampak kemajuan teknologi informasi terhadap peran dan tugas guru agama Katolik dalam dunia pendidikan.
  2. Mengidentifikasi berbagai tantangan yang dihadapi guru agama Katolik dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi.
  3. Menjelaskan harapan serta strategi yang dapat diterapkan oleh guru agama Katolik agar tetap relevan dalam membimbing peserta didik di era digital.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Bagi Guru Agama Katolik:
    • Memberikan wawasan mengenai tantangan yang dihadapi dalam pembelajaran berbasis digital.
    • Memberikan solusi dan strategi untuk mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran agama Katolik.
  2. Bagi Lembaga Pendidikan:
    • Memberikan pemahaman kepada sekolah dan institusi pendidikan tentang pentingnya dukungan dalam pengembangan kompetensi digital bagi guru agama Katolik.
    • Mendorong integrasi teknologi dalam kurikulum pendidikan agama Katolik.
  3. Bagi Peneliti Selanjutnya:
    • Menjadi referensi untuk penelitian lebih lanjut mengenai pendidikan agama Katolik di era digital.
    • Menginspirasi pengembangan metode pembelajaran agama Katolik yang lebih inovatif dan berbasis teknologi.

1.5 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh melalui:

  1. Studi Literatur: Mengkaji berbagai sumber seperti buku, jurnal, artikel ilmiah, dan dokumen resmi yang berkaitan dengan teknologi informasi dan pendidikan agama Katolik.
  2. Wawancara dan Observasi: Melakukan wawancara dengan guru agama Katolik di berbagai sekolah untuk mengetahui pengalaman, tantangan, serta strategi yang mereka gunakan dalam menghadapi era digital.
  3. Analisis Data: Data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif untuk mendapatkan kesimpulan yang sesuai dengan tujuan penelitian.

Dengan metode ini, diharapkan penelitian dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai tantangan dan harapan guru agama Katolik dalam menghadapi kemajuan teknologi informasi serta rekomendasi yang dapat diterapkan dalam dunia pendidikan.

II. TANTANGAN GURU AGAMA KATOLIK DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI

 

2.1 Perubahan Pola Pembelajaran

Kemajuan teknologi telah mengubah cara pembelajaran di berbagai institusi pendidikan. Metode pembelajaran tradisional yang lebih mengandalkan tatap muka kini mulai tergantikan dengan model pembelajaran berbasis teknologi seperti e-learning, kelas virtual, dan penggunaan aplikasi edukasi. Hal ini menuntut guru agama Katolik untuk menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut agar tetap dapat menyampaikan materi secara efektif.

Selain itu, perubahan pola pembelajaran ini juga berdampak pada metode penyampaian nilai-nilai agama yang selama ini lebih banyak dilakukan melalui diskusi langsung dan pengalaman spiritual bersama. Dengan adanya keterbatasan interaksi fisik, guru agama Katolik harus menemukan cara inovatif untuk mempertahankan efektivitas dalam menanamkan nilai-nilai spiritual dalam pembelajaran berbasis teknologi.

2.2 Kurangnya Literasi Digital

Tidak semua guru agama Katolik memiliki keterampilan digital yang memadai untuk memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran. Kurangnya literasi digital dapat menghambat efektivitas dalam menyampaikan materi ajar, terutama ketika menggunakan platform daring yang memerlukan pemahaman teknis. Sebagian guru mungkin merasa kesulitan dalam mengoperasikan perangkat teknologi, menggunakan aplikasi pembelajaran, atau menavigasi berbagai sumber digital.

Selain itu, minimnya pelatihan dan pendampingan bagi guru dalam mengembangkan keterampilan digital juga menjadi faktor yang memperburuk kondisi ini. Guru agama Katolik perlu mendapatkan dukungan dalam bentuk pelatihan dan pendampingan agar mereka mampu mengadaptasi teknologi dengan lebih percaya diri dalam proses pengajaran.

2.3 Penyaringan Konten Keagamaan di Internet

Di era digital, siswa dapat dengan mudah mengakses berbagai sumber informasi keagamaan secara daring. Namun, tidak semua konten yang tersedia valid dan sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Tantangan utama bagi guru agama Katolik adalah memastikan bahwa siswa mendapatkan informasi yang benar dan sesuai dengan doktrin Gereja. Banyaknya sumber informasi yang tidak terverifikasi dapat menyebabkan kebingungan dan pemahaman yang keliru tentang ajaran agama.

Selain itu, fenomena ini juga menuntut guru untuk lebih proaktif dalam memberikan referensi sumber yang valid serta mengajarkan siswa tentang cara menyaring informasi dengan bijak. Guru harus mampu membimbing siswa dalam menggunakan internet sebagai sarana pembelajaran agama yang sehat dan bertanggung jawab, bukan sebagai tempat menyerap informasi yang belum tentu benar.

2.4 Kurangnya Interaksi dan Nilai-Nilai Spiritual

Pembelajaran berbasis teknologi cenderung mengurangi interaksi langsung antara guru dan siswa, yang dapat berdampak pada pemahaman nilai-nilai spiritual secara mendalam. Dalam pembelajaran agama Katolik, interaksi langsung sangat penting untuk membangun hubungan yang erat antara guru dan siswa, sehingga pembelajaran tidak hanya bersifat kognitif tetapi juga afektif dan spiritual. Kurangnya interaksi ini dapat membuat peserta didik kehilangan aspek emosional dan pengalaman rohani yang biasanya didapat melalui kegiatan tatap muka seperti doa bersama, retret, atau perayaan liturgi di sekolah.

Selain itu, dengan berkurangnya interaksi langsung, guru menghadapi tantangan dalam menanamkan nilai-nilai Kristiani yang biasanya lebih efektif disampaikan melalui keteladanan dan pengalaman nyata. Oleh karena itu, guru agama Katolik harus mencari cara untuk tetap membangun kedekatan dengan siswa meskipun dalam lingkungan digital, misalnya dengan membuat sesi refleksi daring, diskusi spiritual, atau menggunakan teknologi untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan bermakna.

 

III. HARAPAN DAN STRATEGI GURU AGAMA KATOLIK DI ERA TEKNOLOGI INFORMASI

 

3.1 Peningkatan Kompetensi Digital Guru

Di era digital, kompetensi teknologi menjadi hal yang sangat penting bagi guru agama Katolik untuk dapat menjalankan tugasnya secara efektif. Guru perlu memanfaatkan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran yang lebih interaktif dan menarik. Peningkatan kompetensi digital ini mencakup penguasaan berbagai platform pendidikan daring, perangkat lunak untuk pembuatan materi pembelajaran, serta keterampilan dasar dalam mengelola kelas virtual. Selain itu, guru juga perlu memiliki kemampuan untuk mengakses berbagai sumber belajar online yang relevan untuk mengembangkan materi ajar yang lebih kreatif dan inovatif.

Namun, peningkatan kompetensi digital tidak hanya berfokus pada keterampilan teknis semata. Guru agama Katolik juga perlu memanfaatkan teknologi untuk mengajarkan nilai-nilai agama dengan cara yang sesuai dengan ajaran Gereja. Hal ini mencakup pemahaman tentang bagaimana menggunakan teknologi untuk memperkuat pemahaman iman dan mendukung pengajaran moral yang kristiani. Pelatihan reguler mengenai penggunaan teknologi dalam pendidikan agama, serta pengembangan keterampilan literasi digital, akan sangat membantu guru untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan potensi teknologi dengan maksimal.

3.2 Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran Agama

Penggunaan teknologi dalam pembelajaran agama Katolik memberikan kesempatan bagi guru untuk menyampaikan materi dengan cara yang lebih menarik dan mudah diakses oleh siswa. Teknologi dapat digunakan untuk membuat video edukatif, infografis, serta aplikasi pembelajaran yang membantu siswa memahami ajaran agama dengan cara yang lebih visual dan interaktif. Selain itu, diskusi daring dan kelas virtual juga memungkinkan siswa untuk belajar secara lebih fleksibel dan sesuai dengan gaya belajar mereka masing-masing.

Namun, guru agama Katolik harus memastikan bahwa penggunaan teknologi tetap memperkuat tujuan utama pendidikan agama, yaitu pembentukan karakter dan nilai-nilai spiritual yang mendalam. Teknologi dapat menjadi alat yang efektif untuk menyampaikan materi, tetapi tidak boleh mengurangi nilai-nilai rohani yang harus dipelajari dan dihayati oleh siswa. Oleh karena itu, guru harus mengintegrasikan teknologi dengan pendekatan pedagogis yang lebih holistik, yang mengutamakan pengalaman spiritual siswa sekaligus memanfaatkan media digital untuk memperkaya pembelajaran agama.

3.3 Pengembangan Sumber Belajar Digital Berbasis Iman Katolik

Salah satu strategi yang dapat diterapkan guru agama Katolik adalah mengembangkan sumber belajar digital yang berbasis pada ajaran Gereja Katolik. Pengembangan sumber belajar ini dapat mencakup modul pembelajaran interaktif, video pembelajaran, serta materi berbasis audio seperti podcast yang menjelaskan ajaran iman Katolik dengan cara yang lebih mudah dipahami oleh siswa. Keberagaman format ini memungkinkan siswa untuk memilih cara belajar yang sesuai dengan minat dan gaya belajar mereka.

Pengembangan sumber belajar digital berbasis iman Katolik juga harus mempertimbangkan kualitas konten yang disampaikan. Guru harus memastikan bahwa sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran sudah sesuai dengan doktrin Gereja Katolik dan dapat mempertahankan integritas ajaran agama. Dengan memanfaatkan teknologi, guru dapat menyediakan materi ajar yang lebih fleksibel dan menarik, serta memperkenalkan siswa pada berbagai macam referensi yang dapat memperkaya pemahaman mereka tentang ajaran agama Katolik.

3.4 Peningkatan Keterlibatan Orang Tua dalam Pembelajaran Berbasis Teknologi

Keterlibatan orang tua dalam pembelajaran berbasis teknologi sangat berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung dan memperkuat nilai-nilai agama Katolik di rumah. Orang tua dapat memberikan dukungan moral dan emosional yang diperlukan oleh anak-anak mereka dalam menghadapi pembelajaran daring, terutama dalam pembelajaran agama yang memerlukan penghayatan mendalam. Oleh karena itu, guru agama Katolik harus melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran, baik melalui pertemuan daring, diskusi kelompok, atau dengan memberikan tugas yang dapat dikerjakan bersama keluarga.

Selain itu, orang tua juga berperan dalam memastikan bahwa anak-anak mereka mengakses sumber informasi yang benar dan sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya pendidikan agama Katolik dan membantu mereka untuk lebih aktif mendampingi anak-anak mereka dalam mempraktikkan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari. Dengan kerjasama antara guru dan orang tua, pembelajaran agama Katolik dapat terintegrasi dengan lebih baik dalam kehidupan siswa, baik di sekolah maupun di rumah.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kemajuan teknologi informasi memberikan dampak yang signifikan terhadap peran guru agama Katolik dalam dunia pendidikan. Meskipun terdapat berbagai tantangan, seperti kurangnya literasi digital, penyaringan konten keagamaan, serta berkurangnya interaksi langsung dengan siswa, terdapat pula peluang besar untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi.

Guru agama Katolik perlu mengembangkan kompetensi digital mereka agar dapat menggunakan teknologi secara efektif dalam mengajarkan ajaran iman Katolik. Selain itu, integrasi teknologi dalam pembelajaran agama, pengembangan sumber belajar digital, serta keterlibatan orang tua menjadi faktor kunci dalam memastikan bahwa pendidikan agama Katolik tetap relevan di era digital.

4.2 Saran

Untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang dalam era teknologi informasi, beberapa saran yang dapat diberikan adalah:

  1. Bagi Guru Agama Katolik:
    • Mengikuti pelatihan dan workshop tentang teknologi dalam pendidikan.
    • Meningkatkan kreativitas dalam mengembangkan metode pembelajaran berbasis digital.
    • Berkolaborasi dengan guru lain dalam berbagi pengalaman dan sumber daya digital.
  2. Bagi Lembaga Pendidikan:
    • Menyediakan fasilitas dan pelatihan teknologi bagi guru agama.
    • Mendorong penggunaan platform digital dalam pembelajaran agama.
    • Mengembangkan kebijakan yang mendukung penggunaan teknologi dalam pendidikan agama Katolik.
  3. Bagi Orang Tua dan Masyarakat:
    • Mendukung anak dalam belajar agama secara digital dengan bimbingan yang tepat.
    • Berperan aktif dalam komunitas digital berbasis iman.
    • Memastikan bahwa anak mengakses sumber belajar agama yang valid dan terpercaya.

Dengan adanya sinergi antara guru, lembaga pendidikan, orang tua, dan masyarakat, diharapkan pendidikan agama Katolik dapat tetap berjalan secara efektif dan tetap relevan dalam era kemajuan teknologi informasi.

===========================

DAFTAR PUSTAKA

  1. Adi, I. M. (2019). Pemanfaatan Teknologi dalam Pembelajaran Agama Katolik di Sekolah. Jurnal Pendidikan Agama Katolik, 10(1), 25-40.
  2. Arifin, Z. (2020). Transformasi Pembelajaran Agama di Era Digital. Yogyakarta: Penerbit Andi.
  3. Anderson, C. A., & Dill, K. E. (2019). The Impact of Technology on Religious Education. Journal of Religious Education, 67(3), 112-128.
  4. Brown, R. M. (2018). Digital Teaching in Religious Studies: Opportunities and Barriers. Journal of Educational Development, 15(2), 58-70.
  5. Daryanto, H. (2018). Strategi Pembelajaran Inovatif untuk Pendidikan Agama Katolik. Bandung: Alfabeta.
  6. Fajar, S. (2021). Pengembangan Kompetensi Digital Guru Agama Katolik. Jurnal Pendidikan dan Teknologi, 15(2), 89-105.
  7. Hadi, S. (2022). Meningkatkan Literasi Digital Guru Agama di Era Teknologi Informasi. Jurnal Pendidikan Islam, 13(3), 125-140.
  8. Hall, K. J., & Nance, T. P. (2021). E-Learning in Religious Education: A Global Perspective. Educational Technology Review, 10(1), 85-98.
  9. Lee, S. Y. (2022). Technology in the Classroom: The Role of Digital Tools in Religious Education. Journal of Religious Studies and Education, 13(2), 204-218.
  10. Sari, R. (2021). Peran Guru Agama Katolik dalam Pengembangan Pembelajaran Digital. Jurnal Penelitian Pendidikan Agama, 7(1), 34-48.
  11. Setiawan, B. (2020). Strategi Pengajaran Agama Katolik di Era Digital. Surabaya: Universitas Kristen Petra Press.
  12. Smith, J. (2020). Challenges in Religious Education: Adapting to Digital Changes. International Journal of Educational Technology, 19(4), 321-335.
  13. Widodo, S. (2021). Peningkatan Keterampilan Digital Guru Agama dalam Pembelajaran Jarak Jauh. Jurnal Pendidikan Agama, 12(2), 110-120.

MEMAHAMI PERPUSTAKAAN

Diliput hari Jumat, 21 Februari 2025

Dalam pendidikan perpustakaan menjadi hal penting guna mendukung dan mengembangkan di dunia literasi. Namun perpustakaan bukan hanya penting di sebuah pendidikan formal tetapi perpustakaan penting juga di setiap lingkungan dalam masyarakat.

Tidak asing lagi kita dengar kata perpustakaan, sehingga di mana saja kita akan temukan atau dengar kata tersebut, di dunia akademisi, di media, di seminar, di jurnal, dalam buku, dan di tengah-tengah masyarakat bahkan pandangan-pandangan dari para ahli. Di Indonesia bahkan dunia selalu berupaya untuk membuka dan mendorong agar setiap institusi dibangun bahkan dirawat gedung-gedung perpustakaan yang megah supaya minat menulis, membaca, dan tingkat intelektualnya terus meningkat. Akan tetapi, kata perpustakaan memberi ruang kepada kita untuk dapat mengamati, memahami, dan mengartikan maksud dan keberadaan dari pada perpustakan itu sendiri, sebab dalam perpustakaan itu telah menyediakan banyak hal bukan hanya buku-buku, jurnal, dokumen dan lain sebagainya tetapi perpustakaan dalam pengartiannya begitu luas, maka tergantung kita memandang dan mengartikannya.

Perpustakaan adalah sebuah ruang di mana telah tersedianya banyak hal, yang kita akan mempelajari dan mengalaminya sebut saja: sekolah, kampus, rumah, alam dan lain sebagainya termasuk media-media yang sedang berkembang pesat ini, karena di dalamnya kita akan pelajari bagian-bagian, jenis dan juga fungsinya. Perpustakaan memberi kita ruang dan manfaat untuk terus mengembangkan ide, membaca, menulis, serta mempelajari alam sekitarnya. Dalam seminar mini di Kampus Sekolah Tinggi Katolik “Touyee Paaa” Deiyai, Bapak Marius Goo, dalam materinya bahwa “menulis itu tidak dapat dipisahkan dari hidup”. Artinya, setiap keberadaan kita terus belajar dan menulis guna ide-ide dan potensi-potensi kita semakin bertumbuh dan berkembang.

Oleh karena itu, untuk memahami keberadaan perpustakaan bukan hanya di kampus dan di sekolah, namun keberadaan perpustakaan dapat dikatakan juga di rumah, di hutan, di kebun, di lingkungan di mana kita berada. Maka, kita sebagai mahasiswa setiap tempat itu menjadi penting untuk memanfaatkannya berkaitan dengan literasi.

Penulis: Andrias You.  Mahasiswa Sekolah Tinggi Katolik “Touye Paapaa” Deiyai. (Semester VI)

Dama, 22/02/25